Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

TIDAK BAPER LAGI

Sekitar tiga atau empat hari lalu, aku melihat postingan salah seorang teman di media sosial. Hanya postingan foto keluarga. Pemandangan yang mungkin bagi kebanyakan orang “biasa saja.” Tapi tidak untukku. salah satu di antara foto itu, terlihat seseayah sedang bercengkerama dengan putri kecilnya berusia antara 7-8 tahun. Sebuah ayunan yang terletak di antara wahana bermain lainnya, di hamparan hijau taman itu, menambah intim dan mesranya suasana sore itu. Ayah dan anak saling berhadapan, dari foto itu terlihat sang anak sangat bersemangat bercerita dan menyampaikan sesuatu pada ayahnya. Sebaliknya seseayah nampak serius menyimak apa yang disampaikan oleh putrinya itu. Aku simpulkan sedang terjadi komunikasi efektif di antara mereka. Hal yang sangat perlu dalam tumbuh kembang anak-anak.

Begitu melihat, awalnya ada yang teriris di dalam sini. Seketika aku merutuki nasib. Andai semua belum terjadi, tentu gadisku akan merasakan dan mengalami juga hal yang seperti itu. Bermesraan dengan ayahnya, bercerita dan bercanda tentang apa saja yang telah dilaluinya, mengadu tentang apapun yang telah dialaminya, atau merencanakan sesuatu untuk hari esok. Pada laki-laki pertama yang menyayangi, menjaga dan selalu melindunginya. Namun apa hendak dikata, takdirnya berbeda.

Aku terbawa perasaan. Menyadari bahwa, meskipun sebagai ibu aku telah melakukan yang terbaik. Berusaha menjadi sosok ayah dan ibu sekaligus sebaik mungkin. Namun pasti, tetap saja ada hal-hal yang tidak bisa tergantikan. Jangankan menjadi dua orangtua sekaligus, menjadi ibu saja aku masih jauh dari sempurna. Lalu bagaimana harus mengisi sosok maskulinitas sebagai super sistem yang dibutuhkan anak-anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya?

Perasaan ini akhirnya menuntunku pada rasa syukur. Kukaji diri, kuhitung nikmatNYA untukku dan anak-anak. Benar, aku tak sanggup untuk menghitungnya. Jika hanya persoalan “sosok maskulinitas” maka anak-anak bisa mendapatkannya dari semua paman kandungnya yang berjumah 7 orang. Walaupun tetap saja tidak sama. Namun dari sekian nikmatNYA yang tak dapat kuhitung, DIA hanya mengambil satu di antaranya, lalu menggantinya pula dengan yang lebih banyak. Tidakkah aku bersyukur? Maka, jangan baper lagi Misdayani!

Pekanbaru, 17 November 2020

#TagurHariKe125

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post