Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

PERJALANAN SEPANJANG BIBIR PANTAI

Di sepanjang jalan itu, deburan ombak terlihat jelas. Jalan yang berada sekitar 400 m dari bibir pantai, tentu saja sangat memanjakan mata dengan pemandangannya yang indah. Angin sepoi-sepoi membuat dahan dan daun-daun pohon cemara melambai kian kemari. Serta eksotisnya sunset bisa kami nikmati tanpa harus mencapai bibir pantai. Kami dapat dengan jelas menyaksikan perpaduan warna jingga dengan birunya laut saat matahari mulai terbenam, hanya dari atas sepeda motor pada perjalanan menuju pulang, sore hari.

Dari rumah, kami menyusuri jalan di sepanjang pantai kota Pariaman. Mulai dari pantai binasi, pantai sunur, pantai ulakan tapakis, hingga sampai di tujuan kami yaitu Ketaping. Tempat papa menggarap tanah sekadar membantu agar bisa menyambung hidup dari hari ke hari. Siang hari, ketika akan berangkat menuju ladang, seringkali aku dan Papa hanya berharap dan berusaha agar cepat sampai di tujuan. Terik matahari tak dapat kami hindari. Sepeda motor memang tak bisa melindungi kami dari panas dan hujan. Sedapat mungkin kami menghidari agar kulit ini tak terlalu legam akibat diterpa panas siang setiap hari.

Namun bila sore hari, alam di sepanjang bibir pantai kota Pariaman ini sangat asri, damai dan tentram. Memandangnya menghilangkan lelahku seharian setelah membantu Papa di ladang. Membantunya menanam dan memelihara semua tanaman. Jahe, jagung, kacang tanah, ubi kayu, kelapa, melinjo. Apa saja yang mungkin. Kadang aku tertidur di punggung Papa, tiupan udara pantai yang sepoi-sepoi dan cuaca yang mulai dingin akhirnya memaksa mata ini menerima haknya. Kedua tanganku melingkar pada pinggang Papa, dengan kepala terkulai di bahu belakangnya.

Nyaris setiap hari. Hingga lobang-lobang pada jalan beraspal kuingat letaknya. Setiap tikungan, jembatan kayu dan tanah-tanah bergunduk di daerah pantai Tiram masih melekat dalam memory ini. Perjalanan sore itu selalu terkenang. Hingga kini.

Begitu pun perjalanan terakhir bersamanya. Di jalan setapak, hanya lebih kurang 500 m lagi mencapai pondok di ladang kami. Jalan yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Rumput yang mati akibat dilalui kendaraan setiap saat, seukuran ban sepeda motor. Di kiri kanannya tumbuh subur rumput dengan tanah agak tinggi. Butuh keseimbangan dan konsentrasi saat mengendarai pada medan seperti itu. Lalu, sepeda motor kami terpeleset. Kami jatuh. Saat itu tidak ada yang cidera, aku baik-baik saja. Begitupun Papa. Kami tetap menuju ladang dan bekerja seperti biasa. Hanya ketika itu, kami tidak pulang seperti biasa. Lebih cepat dari biasanya. Hingga perjalanan sore yang damai dan sunset yang eksotis tak dapat kunikmati.

Sampai di rumah, beberapa jam setelahnya Papa tidak bisa lagi berjalan. Seminggu sudah semua kebutuhannya dilayani. Bahkan untuk buang air sekalipun. Hingga akhirnya Papa dibawa ke rumah sakit. Dan tepat seminggu selama di rumah sakit Papa mengembuskan napas untuk terakhir kalinya. Benar, ternyata itu “Perjalanan terakhir ke ladang bersamaku”, begitu yang dikatakannya, ketika ibu memintaku di rumah saja . Sedangkan Papa menginginkan aku ikut bersamanya. Kala itu. Perjalanan sore itu selalu terkenang.

Pekanbaru, 09 Desember 2020

#TantanganMenulishariKe147

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post