Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

SEULAS SENYUMNYA

Nasi, sayur, dan beberapa potong ikan dimasukkan ke dalam blender. Sesaat berubah bentuk menjadi bubur. Lalu, dengan sabar Bu Jami akan menyuapkan makanan itu pada gadisnya yang bahkan lebih tinggi darinya. Begitu bubur masuk ke mulut anak semata wayangnya, makanan itu buru-buru didorong dengan segelas air. Bila tidak, kembali makanan itu akan keluar, utuh.

Bu Jami mengerjakan hal itu hampir tiga kali sehari. Padahal gadis itu tidak pernah menyatakan kalau sedang lapar. Menunjukkan tanda-tanda laparpun tidak. Tidak pula pernah punya keinginan dan inisiatif mengambil makanan sendiri.

Untuk kesekian kalinya Bu Jami menangis, menceritakan kisahnya padaku. "Siapa yang mau merawatnya bila aku sudah tak ada?" kalimat itu lagi, lagi dan selalu begitu. Seakan Bu Jami yakin bahwa dia akan lebih dulu dipanggil keharibaan-NYA.

Aku hanya jadi pendengar. Jelas keadaan dan masalah Bu Jami di luar kuasaku. Namun kusediakan waktu, hampir setiap waktu belajar usai. Setiap dia mau. Biarlah, jika itu membuatnya sedikit tenang.

Siang itu setelah meliburkan diri. Seminggu kami tak bersua. Bu Jami kembali bercerita dengan pipi yang selalu basah. "Dia sedang haid bu, makanya kami libur dulu" Raut wajahnya nampak meminta begitu banyak perhatian. "Bila sudah haid, lalu buang air besar dalam celana, aromanya bercampur, entahlah bu susah saya mengurainya, apalagi dia tidak bisa jongkok." lanjut Bu Jami. Tiada kata yang pantas kuucapkan selain memintanya bersabar.

Gadis itu, duduk di antara kami. Menyaksikan dan ikut mendengar, apapun yang dikeluhkan ibunya padaku. Apapun yang dikhawatirkan, dan apapaun harapan sang ibu padanya. Mata polosnya menyiratkan ketidaktahuan.

Lalu dia tersenyum memandang ibunya. Maka hilanglah seluruh lelah itu. Sang ibu lupa, baru saja telah berkeluh kesah tentangnya. Lupa aroma haid yang bercampur dengan kotorannya, lupa bagaimana memblender makanan tiga kali sehari, lupa menjemur tempat tidur setiap hari, untuk menghilangkan bau pesing. Seulas senyum gadisnya, membuatnya bahagia tiada tara. Bukti cintanya tak bersyarat. Pada anak satu-satunya yang didiagnosa autis dengan gangguan penyerta keterlambatan tumbuh kembang.

Pekanbaru, 10 Desember 2020

#TantanganMenulisHariKe148

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post