IKATAN
Kami langkahkan kaki ke luar. Setelah memastikan semuanya bersih dan aman untuk ditinggal. Menutup gorden, lalu mengunci semua pintu. Beres.
***
Dua tahun lebih rumah itu tinggal. Tanpa penghuni. Kini kami kembali, pulang. Layaknya rumah yang tinggal, sebersih dan serapi apa pun pasti akan nampak kusam. Debu menempel pada kaki-kaki yang memasukinya. Daun-daun dan jerami padi yang kering terselip pada lubang-lubang angin. Pertanda banyak burung yang bersarang. Begitupuan jaring laba-laba membentuk motif di antara kursi-kursi di ruang tamu.
Sebagian mereka akan takut begitu melihat rumah tua ini. Termasuk para tetangga. Tapi tidak denganku. Juga dengan kelima kakak dan adikku. Kami yang sangat mengenal semua seluk beluk rumah ini. Bahkan hingga kini masih terbayang di mana Papa duduk sambil menyesap kopi buatan ibu. Sambil menggulung daun nipah yang diisi tembakau. Tempat duduk kayu disudut jendela di ruang tengah adalah kursi kebesarannya.
Ibu akan selalu berada di dapur. Tungku kayu itu adalah tempat yang kami tuju, kala tidak menemukan ibu di dalam rumah. Beliau hanya akan bersantai ketika menemani Papa sepulang bekerja.
Ruang tengah, adalah tempat kami berkumpul. Merebahkan badan seasalnya, lalu menatap layar 24 inci itu tak berkedip. Melempar barang-barang sembarangan. Berebut bantal usang yang sudah bau. Lalu berakhir ribut dan perkelahian. Suara teriakan ibu tak akan mampu menghentikannya. Namun seketika akan senyap saat mendengar suara sepeda motor Papa memasuki halaman. Ada kelegaan di wajah ibu setelah itu.
***
Liburan kali ini, kembali kami bergotong royong membersihkan rumah. Memasak di tungku kayu. Melihat asap yang mengepul di atas atap menjadi kepuasan bagi kami. Membuka gorden dan semua jendela. Membiarkan udara dan terik matahari masuk dan menyinari rumah masa lalu kami. Menembus ruang tengah tempat kami berkumpul. Ah ... Rumah ini dan semua kenangannya seakan kembali hidup. Menyegarkan ingatan kami pada beberapa tahun silam.
Jiwa kami seakan kembali pada keharmonisan dan kesederhanaan kala itu. Begitulah caraku mengingat dan mengobati rindu pada Ibu, Papa dan semua Kakak Adik yang sekarang tersebar di tanah rantau. Ikatan akan tempat ini begitu kuat. Bahkan kala mereka menganggap rumah tua ini mulai menakutkan. Justru bagiku hal itu yang memanggil pulang. Bahkan saat tawaran nginap di hotel menjadi pilihan. Pilihan utamaku tetap pada yang telah mengikat. Ikatan yang tak akan pernah sirna. Ikatan seorang anak pada tempat dimana ia dibesarkan dengan orang-orang tersayang. Ikatan yang terbentuk selama puluhan tahun. Ikatan seperti itu tak bisa hilang oleh apa pun.
Pekanbaru, 11 Januari 2021
#tantangan_menulis_hari_ke_180
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan