Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MASALAH UTAMA PJJ

Belajar jarak jauh selama pandemi ini, menurut saya ngeri-ngeri sedap. Betapa segala kelemahannya sudah banyak diurai sebelumnya. Baik dari sisi peserta didik sendiri, orangtua di rumah maupun pihak-pihal yang berhubungan dengan pemberi pendidikan itu sendiri. Baik dari masalah intern maupun ektern.

Sebagai orangtua yang mendampingi anak-anak belajar dari di rumah, bukan hal mudah menjalni rutinitas ini. Namun, mau atau tidak segala upaya akan tetap diusahakan agar anak-anak terus mendapatkan pelayanan pendidikan. 'Ok!' segalanya dilakukan.

Masalah serius mulai dirasakan ketika guru yang memberi 'tugas' slow respon. Guru ini hanya memberi tugas, tanpa adanya penjelasan materi melalui video atau minimal voice note. Dan, kala tugas yang diperintahkan kurang dipahami dan dimengerti, lalu para orangtua (karena ini kelas rendah) bertanya. Hasilnya? Jawaban yang ditunggu tidak kunjung datang. Hingga minggu depan, saat tugas berikutnya masuk.

Tarik napas, berkali-kali. Karena kami orangtua masih menjunjung tinggi nilai kesopanan, saling mengerti dan menghargai. Kami tidak mungkin menegur sang guru, atau malah menasihatinya. Maka tugas tetap dikerjakan berdasarkan pemahaman masing-masing.

Tidak satu, dua guru yang berlaku demikian. Seakan setelah mengirimkan tugas untuk peserta didik tanggung jawabnya selesai. Tugasnya habis.

Pernah pula, tugas-tugas yang telah dikumpulkan ke wa pribadi, tidak dibaca-baca entah sampai kapan. Kadang dibaca, terlihat dari centang biru dua. Tapi tiada respon sebagai apresiasi pada peserta didik. Atau anggaplah apresiasi pada orangtua yang telah membimbing anak-anaknya di rumah. Di tengah seabrek pekerjaan rumah tangga lainnya.

Ada juga yang menyenangkan hati. Setiap tugas terkirim langsung direspon, dengan nilainya sekaligus. Ini tentu lebih membahagiakan daripada hanya sekadar diread. Namun, alangkah mengejutkan, kala tugas-tugas yang selalu mendapat nilai memuaskan, dikirm di awal waktu, ternyata mendapat nilai C, tertulis manis pada buku raport. Salahnya dimana?

Bapak/ibu guru, mari kita sama-sama belajar dari keadaan ini. Bahwa pandemi ini bukan suatu keberuntungan. Beruntung kita tidak mengajar dengan sungguh-sungguh. Beruntung kita tidak mengevaluasi dengan objektif, beruntung kita tidak perlu menyiapkan bahan ajar untuk bisa berdiri di depan kelas. Itu sungguh keliru bapak dan ibu guru. Sebaliknya pandemi ini mengajarkan kita agar lebih kreatif. Bagaimana agar tetap bisa memberikan materi dengan jarak yang terbatas. Bagaimana menilai peserta didik dengan objektif kala kita tidak bisa mengontrol. Bagaimana kita tetap bisa memberikan apresiasi dan penghargaan kepada peserta didik atas kemauan yang kuat untuk belajar, bahkan tanpa ada sosok guru di hadapannya. Haruskah nilai C ada di raport? Padahal mereka telah berupaya belajar semampunya tanpa seorang guru di depan kelas. Maka marilah kita cerdas mengikapi keadaan ini.

Pekanbaru, 25 Januari 2021

#Tantangan_menulis_hari_ke_193

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post