Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

IMPIAN MENIKAH LAGI

Setiap orang pasti mempunyai impian. Tentang apa saja yang belum dicapai, dirasakan, dan dimilikinya. Tentang keinginan memiliki harta benda yang belum atau tidak dimiliki. Tentang cita-cita yang ingin dicapai, tentang kebahagiaan yang dirasa belum sempurna. Adalah manusiawi sekali bila dilihat dari sifat manusia yang tak pernah puas. Setelah mencapai satu impian, maka muncul keinginan dan impian lainnya. Begitu terus menerus.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), impian adalah barang yang sangat diinginkan. Jika demikian, maka impian adalah hal yang sangat diharapkan menjadi suatu kenyataan. Sejatinya impian juga merupakan cara seseorang untuk bertahan hidup dari waktu ke waktu. Maka siapa saja idealnya memang harus bermimpi. Punya impian, tentang apa saja yang menjadi keinginanya.

Namun, ada beberapa hal yang takut diimpikan oleh sebagian orang. Salah satunya takut memimpikan untuk menikah lagi. “Menikah lagi” artinya mereka sudah pernah menikah sebelumnya. Oleh sebab tertentu, pernikahan itu berakhir. Entah itu karena cerai hidup ataupun cerai mati. Yang pasti kini mereka menyandang status single.

Beberapa di antara mereka, bisa jadi ditinggalkan oleh pasangannya dalam keadaan yang masih sangat muda. Banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari, ada yang baru beberapa bulan menikah, lalu bercerai. Ada yang tengah hamil kemudian salah satu pasangan berumur pendek. Apapun bisa terjadi. Yang jelas bila dipandang dan dilihat secara umum, lazimnya para single ini dirasa lebih baik untuk menikah lagi. Demi menjaga nama baik, harga diri atau alasan-alasan lainnya yang bersifat urgen.

Ternyata tidak demikian halnya yang dirasakan oleh para single itu sendiri. impian untuk menikah lagi tidak masuk dalam daftar keinginan mereka. Mereka khawatir dan takut bermimpi untuk menikah lagi. Bahkan banyak yang tidak menginginkan itu terjadi. Lalu apa alasan mereka takut memimpikan menikah lagi? Berikut beberapa alasan yang penulis simpulkan dari beberapa kesempatan berbincang-bincang dengan mereka yang kini berstatus duda dan janda.

1. Rasa cinta yang sangat terhadap pasangan yang terdahulu.

Bagaimanapun “rasa” adalah hal yang tidak dapat dijangkau. Datang dan perginya bahkan diluar nalar manusia. Benar, “cinta mati” pada seseorang itu ada. Bukan sekadar kata-kata puitis belaka. Seseorang bisa jadi tidak bisa melupakan sosok orang yang dicintainya begitu saja. Setiap waktu setiap saat masih terbayang akan dirinya. Jika dia menikah lagi, seolah-olah dia berkhianat akan kesetiaan yang pernah menjadi komitmen mereka.

2. Trauma yang dihadapi selama menjalani bahtera rumah tangga

Setiap pasangan dalam menjalani bahtera rumah tangga pasti mengalami pasang surut. Ada riak-riak yang mesti dilalui untuk kemudian tenang kembali. Ada duka, sedih, kecewa dan segala hal lainnya yang tidak menyenangkan. Bahkan karena hal itu rumah tangga mereka hancur, kandas. Tidak bisa dipertahankan.

Bagi mereka dengan kasus ini, menikah lagi bukanlah hal yang mudah. Ada pengalaman buruk yang dramatis, yang membutnya belajar untuk tidak terlalu cepat mengambil keputusan menikah lagi. Boleh jadi mereka bersyukur jika kini berstatus hidup tanpa pasangan.

3. Memikirkan kebahagiaan anak-anak

Kebahagiaan anak-anak menjadi yang utama bagi seorang single parent. tidak berlebihan rasanya jika ada yang mengatakan mereka bertahan demi anak-anak. Kebahagiaan anak-anak adalah kebahagiaannya. Senyum anak-anak adalah syurga baginya.

Lalu, akankah dengan adanya ayah atau ibu sambung membuatnya bahagia? Kekhawatiran seperti ini menggiring pikirannya bahwa lebih baik TIDAK menikah lagi, daripada was-was dalam ketidakjelasan.

4. Kekhawatiran mendapatkan pasangan yang buruk dari sebelumnya

Berkaitan dengan rasa trauma yang pernah dialami. Maka banyak yang khawatir jika mendapat pasangan yang ternyata jauh lebih buruk. Meski selama masa saling mengenal terlihat baik. Tetapi mereka yang sudah pernah menikah akan lebih selektif dalam memilih pasangan. Mereka akan menjadikan pengalaman sebagai guru dan cermin untuk melalui masa yang akan datang. Tentunya tidak dengan mudah mengambil keputusan untuk menikah lagi.

5. Merasa nyaman pada fase ini

Pasca berpisah dengan pasangan adalah hari-hari yang berat. Tidak mudah melaluinya. Butuh waktu yang tidak sedikit untuk menata hati yang porak poranda. Butuh kekuatan untuk tetap berdiri tegak pada kaki yang goyah. Butuh kesabaran dan doa yang tak pernah henti, hingga akhirnya semua terasa normal dan baik-baik saja.

Pada fase ini, banyak yang mulai merasa aman. Sudah terbiasa dengan kehidupan yang baru tanpa pendamping. Sekarang, hari-hari yang dilalui justru lebih mengasyikkan daripada sebelumnya. Kala memiliki pendamping yang notabene harus dilayani. Apa-apa mesti dengan persetujuannya. Segala hal harus melalui perundingan dengan pasangan. Maka jika menikah lagi, ada kekhawatiran kehidupan yang dirasa aman dan nyaman kembali berubah. Tentu itu merupakan perubahan yang tidak diinginkannya.

6. Tekanan dan kehkawatiran lingkungan

Lingkungan ternyata juga merupakan faktor yang menyebabkan seseorang takut mengambil keputusan tidak mau menikah lagi. Utamanya keluarga. Ada tekanan dari keluarga bahwa menikah lagi hanya akan menambah masalah baru. Tidak siap dengan segala penyesuaian-penyesuaian yang akan dilakukan kala ada pendatang baru di rumah. Hal ini biasanya terjadi apabila tempat tinggal masih menyatu atau bersama dengan keluarga besar.

Keluarga yang terlalu ikut campur, merasa akan lebih baik bahwa anak, adik, atau kakaknya yang bertsatus duda/ janda lebih baik sendiri saja. Bukankah ada anggota keluarga lainnya yang siap sedia membantu segala kebutuhannya yang takdapat ia lakukan?

Di atas hanya beberapa dari sekian banyak alasan lainnya mengapa seseorang takut untuk menikah lagi. Bahkan hanya untuk sekadar memimpikan. Mereka tidak berani. Padahal tidak semua alasan itu seperti yang dipikirkan. Itu hanyalah ketakutan dan kekhawatiran akan hal yang belum terjadi.

Dalam ajaran islam menikah merupakan ibadah yang sangat dianjurkan. Karena terdapat beberapa keutamaan padanya, di antaranya; pertama, dengan menikah dapat memelihara diri dan agama. Kedua, mendapatkan limpahan rahmat dari Allah SWT. Ketiga, agar dapat berbagi kasih sayang dan mendapatkan ketentraman dari pasangan.

Lalu, apakah keutamaan-keutamaan di atas juga berlaku bagi mereka yang telah pernah menikah? Wajibkah bagi seorang janda atau duda untuk menikah lagi? apakah mereka harus punya mimpi untuk mendapatkan lagi pasangan hidupnya?

Tentunya hal itu berbeda-beda pada setiap orang. Apabila kondisi duda atau janda tersebut masih muda, masih memiliki syahwat biologis. Lalu ada kekhawatiran baginya ataupun oranglain akan terjadi fitnah. Maka dalam kondisi seperti ini menikah lebih utama baginya.

Jika demikian, maka hapuslah segala alasan-alasan takut menikah lagi dalam pikiran. Alasan-alasan yang belum pasti kebenarannya. Sebaliknya tetaplah bermimpi dan punya impian memiliki pasangan. Seraya terus berdoa agar dipertemukan dengan seseorang yang baik. Yang berniat dengan sungguh-sungguh membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Seseorang yang bersedia menerima dengan segala masa lalu yang pernah ada. Semoga dengan terus bermimpi, ada usaha yang terus kita upayakan. Dan semoga upaya itu mendekatkan kita kepada segala kebaikan.

Pekanbaru, 20 Maret 2021

#Tagur_hari_ke_249

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post