Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

KEBAHAGIAAN MENYAMBUT RAMADAN BAGI ANAK YATIM

Sebentar lagi bulan suci ramadan akan datang. Setiap muslim tentunya merasa gembira akan kehadiran bulan yang mulia ini. Sebuah masa yang ditunggu-tunggu kedatangannya karena banyaknya kemuliaan, keutamaan dan berkah dari Allah SWT pada bulan itu.

Hadist Riwayat Ahmad dalam Al-Musnad (2/385) mengatakan bahwa “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.”

Dari penjelasan di atas, saya yakin tiada seorang muslimpun yang membantah akan kegembiraannya menyambut bulan suci ramadan. Karena baginya, ibadah akan terasa lebih nikmat dibanding sebelas bulan lainnya. Pun merupakan waktu yang paling baik untuk bermunajat kepada-NYA.

Ternyata kegembiraan itu tidak saja dirasakan oleh kaum muslim dengan tingkat ketaqwaan yang tinggi. Akan tetapi, juga dirasakan oleh anak-anak yatim di sekitar kita. Bukan, bukan karena dia mengerti dan paham akan kemuliaan dan keutamaan pada bulan itu sebab usianya yang masih dini. Melainkan karena banyaknya santunan yang diterimanya menjelang dan selama bulan baik itu.

Tak dapat disangkal, sebuah amplop dari yang menyantuni sangat ditunggu-tunggu dengan harap oleh mereka. Bahkan sebelum itu terjadi, banyak rencana yang telah disusun. Sederet daftar kebutuhannya sudah tertulis. Kelak bila mereka menerima santunan, semua kebutuhan itu akan tunai. Sedekah dari orang-orang yang peduli kepadanya mengukir senyum di wajah mereka. Tandanya mereka bahagia.

Bila mengusap kepala anak yatim saja merupakan keutamaaan, apakah lagi menyantuninya dengan tulus ikhlas. Memberikan sedekah yang bahkan sengaja dinanti-nanti. Sedekah yang membuat senyum di bibirnya merekah. Tentu ada ganjaran yang besar yang telah Allah janjikan.

Lalu kenapa anak-anak yatim sangat berbahagia dan menanti-nanti santunan itu? Ada beberapa alasan yang coba saya rangkum melalui tanya jawab dengan beberapa anak yatim di lingkungan sekitar tempat tinggal. Pertama, keadaan ekonomi keluarga tergolong menengah ke bawah. Sejatinya tanggung jawab mencari nafkah ada di pundak Ayah. Maka ketika seorang anak menjadi yatim niscaya segala kebutuhannya tidak ada yang memenuhi. Seorang ibu yang tidak bekerja akan menambah ruwet masalah itu. Dalam kondisi ini anak-anak yatim punya harapan besar akan santunan dari orang-orang di sekitarnya. Menjelang dan selama ramadhan harapannya menjadi kenyataan, karena banyak yang menyantuninya selama moment tersebut.

Kedua, jarang bahkan tidak adanya santunan sebelum ramadan. Mengingat begitu besarnya keutamaan menyantuni anak yatim pada bulan yang penuh rahmat, maka banyak orang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Bulan ramadan menjadi momentun berbagi, bersedekah dan menyantuni orang-orang yang berhak menerimanya. Karena keutamaan itu, ternyata banyak yang luput memperhatikan anak yatim di luar bulan ramadan. Bahkan nyaris setahun mereka tidak mendapatkan santunan apapun. Hal ini membuat mereka sangat menunggu datangnya bulan ramadan dengan penuh suka cita.

Ketiga, jumlah santunan lebih besar daripada biasanya. Jikapun ada yang memberi santunan di luar bulan ramadan, jumlahnya tidak seberapa. Baik dari kuota orang-orang yang ingin bersedekah maupun dari nominalnya. Dibandingkan pada bulan ramadhan, hal ini dirasakan sangat berbeda. Santunan akan melimpah, mulai dari tajil hingga berupa materi dari hamba Allah yang tak diduga-duga. Anak-anak mana yang tidak bergembira dengan ritual tersebut?

Terakhir, kebiasaan dari tahun ke tahun. Sudah menjadi kebiasaan baginya diberi santunan menjelang dan selama bulan suci ramadan. Tak heran jika moment itu diharapkan kedatangannya. Didoakan agar disegerakan.

Semoga kebahagiaan itu, menjadi awal anak-anak yatim mengerti dan paham akan kebahagiaan sesungguhnya dalam menyambut bulan suci ramadan, seperti kebahagiaan para mukmin sejati. Bukan semata berbahagia karena alasan menerima santunan yang diberikan. Dengan seringnya mereka menerima santunan, kelak membuat mereka berpikir dan terbiasa memberi kepada sesama.

Bukan saja bagi para yatim, melainkan untuk kita semua, agar lebih ringan tangan dalam berbagi, bersedekah dan menyantuni orang-orang yang berhak menerimanya. Lebih memperhatikan anak yatim di sekitar kita, baik selama maupun di luar bulan ramadan sendiri.

Profil penulis:

Penulis berama Misdayani. Kelahiran Pariaman, lebih dari 30 tahun yang lalu. Sehari-hari penulis ada di tengah-tengah anak dengan kebutuhan khusus, sebagai tenaga pendidik tepatnya di SLBN Pembina Pekanbaru. Pada masa luang penulis sering menikmati waktu dengan menulis. Hingga saat ini masih terus belajar agar tulisan-tulisannya mengalir dan enak dibaca. Suatu kepuasan baginya bila tulisannya dinikmati dan bermanfaat bagi orang banyak. Penulis dapat disapa pada nomor whatsapp **(censored)**, juga email **(censored)**

Pekanbaru, 08 April 2021

#Tagur-Hari-Ke-267

#Lomba_menulis_April_2021

#Colourfull_Ramadan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post