Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

'ME TIME' SALAH SATU HIKMAH MENJADI SINGLE PARENT

Beberapa pasangan suami istri merasa waktu untuk dirinya hilang atau terampas semenjak dia menikah. Benarkah? Dari beberapa wawancara penulis dengan teman-teman yang hobi menulis, sebagian mereka juga mengatakan “tidak sempat lagi menulis”, seperti dulu ketika mereka belum berkeluarga. Banyak pekerjaan rumah tangga yang harus diselesaikan dan banyak jiwa-jiwa yang harus diberikan perhatian dan kasih sayang. Semua itu membutuhkan waktu yang tak sedikit. Sebagian besar merasa tidak mampu membagi waktu dengan baik.

Semakin lama keluarga itu terbentuk, semakin banyak kebutuhan dan urusan rumah tangga yang perlu mendapat perhatian dan perlakuan khusus. Misalnya kepentingan dan urusan pekerjaan suami, sedikit banyaknya juga akan menjadi urusan istri, misalnya dengan menyiapkan sarapan dan bekal saat suami hendak berangkat bekerja, atau mungkin ikut berpartisipasi memberikan sumbangan pikiran saat suami mendapat hambatan dan masalah di kantor. Sebaliknya kebutuhan istri juga akan menjadi perhatian suami, sehingga perlu banyak hal yang dikorbankan sebagai bentuk wujud kasih sayang di antara mereka.

Kehadiran anak-anak, semakin membuat waktu untuk diri sendiri semakin sedikit. Anak-anak yang belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Mengurus dan membesarkannya ibarat mengabdikan seluruh waktu dan usia untuk mereka. Saat mereka bayi, tumbuh kembangnya menjadi perhatian utama, lalu berlanjut pada upaya pendidikannya, hingga mereka tumbuh besar. Semua itu sangat menyita waktu. Di tengah kemelut itu, pasangan baik suami maupun istri tak dapat pula diabaikan. Menyediakan waktu untuknya juga menjadi bumbu wajib agar rumah tangga tetap bertahan dalam keharmonisan. Seringkali waktu untuk diri sendiri diabaikan demi semua itu.

Banyak para istri tak lagi punya waktu meski sekadar menata rambut, luluran sejenak agar urat-urat sedikit kendur, bahkan ketika belum usai membilas badan saat mandi sekalipun, harus buru-buru keluar karena suara tangisan anak dan teriakan suami di luar sana. Nah apatah lagi dengan menyalurkan hobi untuk nge-game, menjahit, menulis dan bermain voli. Nyaris harus diikhlaskan dalam waktu yang tak dapat ditentukan.

Begitupun para suami, ketika pulang bekerja dan baru sampai di rumah, sudah menanti daftar urusan yang akan dimintai tolong sang istri. Mengantar ke swalayan, membeli gas yang habis, mengasuh anak-anak dan banyak lagi. Saat semua selesai, dan ingin pamit main badminton langsung disambut muka masam dan cemberut oleh kekasih hati. Apa daya? Berkali-kali mencoba, akhirnya diizinkan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Rumit, ya?

Jangan khawatir bagi yang single parent, kerumitan itu mulai dapat diurai. Setelah kebutuhan dan urusan anak-anak dipenuhi dan diselesaikan, maka sisanya adalah untukmu. Kita bisa melakukan apa saja tanpa khawatir ada yang marah dan baper. Berselancar dengan hobi yang menyenangkan menurut kita bukan keniscayaan lagi. Inilah waktunya, yang tidak kita dapatkan saat dia masih ada di sisi.

Mulailah menata kebun, bunga-bunga yang semakin mekar dari hari ke hari akan membuatmu bersemangat. Menjahitlah, sebuah baju untuk anak hasil karya sendiri akan membuat senyum mengembang. Menulislah, emosi negatif akan hilang dari dirimu berganti dengan emosi yang positif, jiwa akan lebih stabil. Peliharalah hewan ternak dan hewan piaraan, melihat dia tumbuh sehat akan menambah semangat hidup, kita akan merasa bahwa hidup lebih berarti setiap harinya.

Apalagi yang perlu ditangisi, dan disesalkan? Sebagian pasangan malah tidak punya pilihan selain mengurus anak-anak dan pasangannya di rumah. Tak bisa melihat dunia luar selain melalui pintu dan jendela di rumahnya. Tidak seperti seorang single parent yang bebas mengatur waktu dan kehidupannya sesuai dengan keinginannya, terserah mau pergi sesuka hati. Bebas menentukan waktu dan menikmatinya sendiri tanpa ada yang mengganggu. Itulah “me time” baginya. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kita dustakan? Karenanya, yuk cerdas memetik hikmah!

PEKANBARU, 19 APRIL 2021

Tagur_hari_279

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post