RAMADAN MASA KANAK-KANAK
Kapan pertama kali kamu belajar berpuasa? Umur tujuh tahun? Depalan, atau sembilan? Sampaikah puasamu pada waktu bedug magrib? Atau belajar menahan haus dan lapar, setengah hari dulu?
Saya sendiri tidak diajarkan untuk berpuasa setengah hari. Itu makanya pada usia 6 tahun, saya, begitu juga kakak dan adik-adik telah mampu menahan haus dan lapar sejak imsak hingga waktu berbuka masuk. Meski perdana tapi mampu berbuka pada waktu yang seharusnya. Tidak pada pukul 12.00, 13.00 dan seterusnya.
Pertama kali mencoba menahan haus dan lapar seharian, pastinya sesuatu banget. Apalagi pada masa-masa perut biasa diisi: pagi hingga waktu sarapan habis, siang hari pada waktu makan siang, sore hari ketika biasa perut diisi snack dan cemilan lainnya.
Pada waktu itu jangan ditanya betapa mata dan perut terasa lapar bersamaan. Rasanya semua begitu enak, ingin dilahap, diteguk, menghilangkan dahaga yang tak tertahankan itu. Apalagi kala cuaca panas berdengkang. Kala tubuh yang hanya mampu tergelepar di lantai. Segelas air putih saja sungguh menggoda.
Nah, pada masa kanak-kanak. Saat kita baru belajar menahan haus dan lapar. Bukan memahami arti puasa sesungguhnya tentu banyak pengalaman yang menggelikan dilakukan. Pengalaman membatalkan puasa tanpa diketahui orangtua. Ups.
Saya melihat pola yang sama pada teman-teman masa kanak-kanak itu. Secara sembunyi-sembunyi terpaksa membatalkan puasa akibat tak mampu menahan haus dan lapar.
Yang paling sering saya lakukan adalah meminum air keran saat berwudhu di Mesjid. Bila sebelum bulan Ramadan, salat zuhur ke Mesjid enggan saya lakukan, maka selama puasa masa itu sangat ditunggu-tunggu. Setidaknya dapat meneguk air wudhu yang tadinya untuk kumur-kumur. Begitu selesai salat dan pulang kerumah, badan terasa segar dan bersemangat lagi.
Pernah pula, kala bermain di rumah tetangga. Lalu bertengger pada pohon jambu yang buahnya lebat, ranum dan menggoda. Setelah memastikan keadaan aman, kiranya dapat diduga apa yang akan terjadi.
Ketika itu, saat kesalah-kesalahan itu dilakukan, saya amat yakin kalau orangtua di rumah tidak mengetahui apa yang telah saya lakukan. Hingga akhirnya kini saya menjadi orangtua, saya paham apa yang telah dilakukan oleh anak-anak saya.
Maka mari berikan edukasi kepada anak-anak kita sejak dini. Meski kini pola itu berulang, setidaknya pada masanya mereka tahu bahwa itu tidak benar.
Selamat menjalankan ibadah puasa yang ke 10. Semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT. Aamiin.
Pekanbaru, 22 April 2021
#Tagur_hari_ke_281
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan