Misdayani, S. Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

MENYIBAK CIRI KHAS DAN KARAKTER TULISAN

“Menulis itu semudah bernapas” begitu quote yang pernah saya baca pada pamflet salah kelas menulis online. “Ah masa sih?” Kira-kira begitulah reaksi pertama yang muncul pada umumnya, termasuk saya pribadi. Bagaimana mungkin menghasilkan tulisan yang enak dibaca, padat, dan berisi semudah bernapas? Jelas itu tidak masuk akal.

Pikiran dan hipotesa saya, lama-lama akhirnya terbantahkan. Setelah melihat beberapa penulis handal menghasilkan karyanya. Kata-kata yang dirangkainya sangat menawan. Menyuguhkan informasi yang terkadang sesungguhnya berat, akan tetapi terasa ringan setelah diramu dan diolah dengan bahasa dan gaya menulisnya masing-masing.

Saya, dan mungkin juga orang lain terbuai. Sehingga, tanpa sadar ternyata sudah sampai pada paragraf akhir. Artinya pembaca hanyut menikmati tulisan-tulisan itu. Bahkan pada kesempatan lain, kembali dibaca untuk yang ke sekian kalinya. Yang sangat menakjubkan, tulisan itu dihasilkan di tengah segala kesibukannya yang tak pernah habis. Bukti bahwa, menulis bukanlah pekerjaan berat baginya.

Sebagai penulis pemula, tentu setiap orang pun ingin seperti itu. Tak terkecuali saya. Ingin pembaca menunggu-nunggu dan nagih untuk membaca karya yang dihasilkan. Maka, kiranya perlu sebuah kreatifitas dan seni dalam menulis. Dengan seni, tulisan yang dihasilkan akan mempunyai nilai estetika yang membuatnya berbeda dan layak untuk dinikmati. Perlu kreatifitas, agar menulis terasa semudah bernapas, namun tetap berkualitas.

Pada mulanya, saya mencoba menulis apa saja. Apa yang terpikir, apa yang terjadi dan apa yang saya lihat dan rasakan. Tulis saja dan tulis saja. Lalu, saya melihat tulisan saya sebagai ungkapan perasaan belaka. Curhat, kata mereka. Tulisan yang saya tidak ingin orang lain membacanya. Timbul pertanyaan dalam benak, untuk apa saya menulis jika tidak akan dibaca orang lain?

Sebuah ide muncul, Saya mencoba menulis berbagai genre. Puisi, pantun, opini, baik ilmiah maupun non ilmiah, cerpen hingga pentigraf dan fiksimini. Tulisan itu saya baca berulang-ulang. Sehingga saya dapati tulisan saya yang paling enak dibaca pada salah satu genre. Saya juga menemukan dan menyadari, pada genre yang mana saya merasa mudah untuk menuliskannya. Lalu saya meminta beberapa orang membaca tulisan-tulisan itu berikut lengkap dengan segala komentarnya.

Berikutnya yang penting saya lakukan ialah mempelajari gaya tulisan orang lain yang segenre dengan genre yang saya senangi tadi. Saya lihat dan teliti kenapa tulisan mereka saya sukai? Dimana kelebihannya? Dari hasil pengamatan sendiri, ditemukan bahwa, penulis-penulis itu punya ciri khas dan karakter tulisannya masing-masing.

Sebagai contoh, penulis A selalu mengangkat masalah yang menurut saya berat, tapi endingnya selalu sedikit nyeleneh, saya pikir guna menetralkan emosi yang terbentuk sejak awal paragraf. Penulis B, menulis hal yang biasa saja, hampir terjadi pada setiap orang, setiap saat. Tapi karena sudut pandang yang berbeda membuat hal yang biasa menjadi unik, tak terduga. Penulis C, tulisannya kerap tentang parenting. Hal yang dirasa tidak mungkin, setelah diuraikannya dengan gaya bahasa yang khas menjadi mungkin untuk dilakukan. Dari kekhasan tulisan itu, pembaca akhirnya bisa menebak tanpa melihat terlebih dahulu penulisnya, bahwa tulisan itu adalah karya si A, B atau C.

Berangkat dari pengalaman itu juga, akhirnya saya mempelajari apa yang menjadi ciri khas tulisan saya. Berbagai upaya saya lakukan untuk menyibak ciri khas dan karakter tulisan. Pertama, dengan membaca semua tulisan yang pernah saya tulis. Kedua, membanding tulisan yang satu dengan yang lain. Ketiga, mencari apa yang sama dan selalu ada dalam setiap tulisan itu. Keempat, meminta orang lain turut serta membaca dan menemukan kekhasan tulisan saya. Meski pada akhirnya, hingga kini belum saya temukan kekhasan dan karakter tulisan saya itu. Namun, pastinya usaha itu akan terus saya lakukan.

Upaya berikutnya adalah latihan terus-menerus yang tak dapat dielakkan. Karena sejatinya memang “alah bisa karena biasa” tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Seberapapun berkompetensinya seseorang dalam menulis. Seunik apapun karakter dan ciri khas tulisannya. Sebanyak apapun data yang dimiliki dan sesering apapun riset yang telah dilakukan. Tiada artinya tanpa latihan tanpa henti.

Maka teruslah berlatih menulis, temukan kekhasan dari gaya menulismu. Karena ciri khas dan karakter tulisan, sebenarnya merupakan seni menulis itu sendiri. Dirasakan oleh penulis dan dinikmati oleh pembaca, terpuaskan jiwa raga. Seni menulis adalah kreatifitas penulisnya. Angkat dan eksplor karakter tulisan itu, hingga karakter tulisan itulah yang menemukan penulisnya nanti.

PEKANBARU, 01 JUNI 2021

#TAGUR_HARI_KE321

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post