Mualdin Sinurat

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI ERA GLOBALISASI
Foto Narasumber bersama Pimpinan Ignasius Grup

PENDIDIKAN ENTREPRENEURSHIP DI ERA GLOBALISASI

STIGNAS Entrepreneur Championship (SEC) berakhir dengan menggelar Seminar Entrepreneurship pada Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Pendidikan Entrepreneurship di Era Globalisasi”. Acara yang dilaksanakan Perguruan Katolik Yayasan Seri Amal Unit TK, SD, SMP, dan SMA Santo Ignasius ini digelar di Lapangan Ignasius Grup Medan Johor dengan dihadiri sekitar 1500 orang.

Narasumber Dr. Aldon MHP. Sinaga, SP. MMA. yang merupakan Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia dengan lugas memaparkan materinya sebagai edukasi pentingnya pendidikan entrepreneurship dalam menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi saat ini. Berperan sebagai moderator untuk memandu jalannya seminar adalah Mualdin Sinurat, M.Pd. Kepala SMAS St. Ignasius Medan.

Berikut resume materi yang dipaparkan oleh Pak Aldon pria kelahiran 14 Januari 1971 di Banyuwangi.

Di tengah perekonomian global dan disrupsi digital yang kian masif, pertanyaan klasik untuk orang tua kembali mengemuka: ke mana anak akan melangkah setelah lulus sekolah? Kuliah atau kerja? Jika kuliah, di mana? Jika kerja, pekerjaan apa? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang sering muncul dalam pemikiran orang tua. Pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti kegelisahan orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka.

Kegelisahan tersebut bukan tanpa alasan. Tantangan nyata dunia kerja menjelang tahun 2025, termasuk angka pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun 2024 yang mencapai 77.965 orang serta potensi dampak terhadap 280 ribu pekerja pada tahun 2025. Bahkan kenaikan PHK tertinggi di salah satu wilayah (SUMUT) hingga 498,89 %. Data ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar kerja konvensional tidak lagi sepenuhnya stabil dan menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi.

Dengan tegas Pak Aldon mengatakan bahwa PHK bukanlah akhir dari segalanya. Tantangan justru harus dijawab dengan adaptasi, keingintahuan, berpikir kritis, membangun jaringan, dan kemampuan membaca peluang. Di sinilah pendidikan entrepreneurship (kewirausahaan) menemukan relevansinya.

Bonus Demografi dan Tantangan Kompetensi

Indonesia saat ini memiliki lebih dari 9 juta mahasiswa dengan sekitar 1,25 juta lulusan setiap tahun. Menariknya, sekitar 60 persen program studi berada di bidang pendidikan dan humaniora. Ketimpangan antara jumlah lulusan dan daya serap pasar kerja berpotensi menimbulkan permasalahan struktural jika tidak diimbangi dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan zaman.

Dalam hal ini, kompetensi kunci untuk unggul di masa depan yang harus dimiliki: determinasi, pemecahan masalah, kreatif-inovatif, literasi digital, berpikir kritis, dan kolaborasi. Kompetensi ini bukan hanya sekedar pelopor menjadi karyawan yang adaptif, namun juga fondasi menjadi wirausaha yang tangguh.

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Mandiri

Salah satu benang merah yang kuat dalam pendidikan entrepreneurship adalah konsep “mandiri”. Ketika ditanya sebagai orang tua, apakah menginginkan anaknya kaya, berkuasa, atau terkenal? Semua menunjukkan respon senyum sebagai pertanda setuju dengan keinginan itu. Namun Pak Aldon menegaskan, untuk bisa sampai kesana tentu perlu pendidikan entrepreneurship yang memiliki satu tujuan yang lebih esensial yaitu kemandirian

Kemandirian dapat dilihat dari “buah pikiran”. Seorang dikatakan mandiri jika dia memiliki kemampuan melahirkan gagasan yang berhasil. Gagasan berhasil lahir dari sesuatu yang dibutuhkan atau diinginkan, bersifat solutif, menjawab masalah, hingga mampu membaca gejala sosial di sekitarnya. Dengan kata lain, entrepreneurship bukan sekadar berdagang, melainkan kemampuan membaca persoalan dan menciptakan nilai tambah.

Proses membangun gagasan ini ditegaskan dibangun dari pola pikir desain (design thingking) yang menuntut empati, riset pasar, literasi digital, kegelisahan, kolaborasi, dan kemampuan belajar berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan peserta didik sebagai pemecah masalah, bukan sekadar pencari kerja.

Prinsip Efektuasi dan Roadmap Entrepreneeurship

Prinsip efektuasi dalam entrepreneurship, seperti bird in hand, the lemonade, crazy quilt, pilot on the plane, dan affordable loss. Prinsip-prinsip ini menekankan bahwa wirausaha tidak harus dimulai dari sumber daya besar, melainkan dari apa yang sudah dimiliki, keberanian mengelola risiko, serta kemampuan membangun kolaborasi. Gagasan yang berhasil, ditegaskan pula, diinisiasi melalui tahapan logistik dalam sebuah peta jalan kewirausahaan. Artinya, kewirausahaan dapat diajarkan secara sistematis melalui desain pembelajaran yang terstruktur.

Pendidikan Entrepreneurship bukan sekedar teori bisnis, namun proses membentuk pola pikir, karakter, dan strategi bertindak.

Menjawab Dinamika Globalisasi

Narasumber menjelaskan secara eksplisit menyatakan bahwa dinamika yang ada harus diantisipasi dan dijawab dengan Entrepreneurship/kewirausahaan. Dalam konteks globalisasi digital, perubahan teknologi, otomasi, dan ekonomi berbasis platform telah menggeser lanskap pekerjaan secara mendasar.

Oleh karena itu, pendidikan tidak lagi cukup hanya menyiapkan lulusan untuk mencari kerja, tetapi harus menyiapkan mereka untuk menciptakan kerja. Peserta didik perlu dibekali kesadaran diri, riset pasar, kompetensi teknis, komunikasi, serta keterbukaan untuk terus belajar. Dengan landasan tersebut, mereka diharapkan siap mengambil peluang dan menghadapi tantangan kerja maupun wirausaha di masa depan.

Penutup

Pendidikan entrepreneurship di era globalisasi bukan sekadar pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategi bangsa. Di tengahnya mencakup kompetisi ekonomi global, kemandirian, kreativitas, serta kemampuan membaca peluang menjadi kunci keinginan generasi muda.

Lewat paparan ini narasumber menegaskan satu pesan utama: masa depan tidak menunggu kesiapan, tetapi menuntut keberanian untuk beradaptasi dan berinovasi. Dan pendidikan entrepreneurship adalah salah satu jawaban paling relevan untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan dampak.

Bagi para orang tua: “siapkan anak, ambil peluang dan hadapi tantangan kerja dengan wirausaha masa depan”.

Horas, salam Imago Dei!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post