RINTIH BUMI YANG TERKOYAK
Rintih Bumi yang Terkoyak
Oleh Sultan Chemistry
Luruh dedaunan berbisik pilu,
di tepian sungai yang kini kelu.
Dahulu bening bagai cermin langit,
kini keruh, menangis pahit.
Angin menari dalam kepedihan,
membawa nyawa hutan yang hilang.
Dahan meratap di ujung duka,
terpanggang rakus api merajalela.
Gunung-gunung kehilangan nyanyian,
lirih terdengar erangan tanah.
Laut menelan cahaya rembulan,
tenggelam dalam nestapa dan amarah.
Langit pun muram, gerimis berdebu,
menabur luka di dada semesta.
Sementara manusia berpesta riang,
di atas luka yang mereka cipta.
Oh, bumi yang luka,
adakah tangan yang kan merawatmu?
Atau kau harus binasa dahulu,
agar kita sadar betapa kau rindu?
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan