MENITI CAHAYA DI LORONG TAKDIR
MENITI CAHAYA DI LORONG TAKDIR
Di sudut kampung kecil yang dikelilingi sawah hijau menghampar, seorang pemuda bernama Azzam termenung di serambi masjid. Wajahnya yang teduh memantulkan beban yang bertahun-tahun menghimpit batinnya. Ia adalah seorang yatim piatu sejak kecil, diasuh oleh kakeknya yang seorang marbot masjid. Namun, takdir seolah menggiringnya pada jalan yang berliku.
Ketika remaja, Azzam sempat terseret pergaulan buruk. Ia pernah terjerumus dalam dunia gelap perjudian dan pergaulan bebas, meski hatinya selalu merasa gelisah setiap kali mendengar suara azan berkumandang. Hingga suatu malam, takdir menghantamnya begitu keras.
Azzam tengah duduk di sebuah warung kopi ketika sekelompok pemuda datang membawa dendam. Mereka menuduhnya sebagai penyebab hilangnya uang taruhan di arena sabung ayam. Tanpa sempat membela diri, sebuah botol kaca pecah menghantam pelipisnya, membuatnya limbung. Ia mencoba bangkit, tapi pukulan demi pukulan membuat tubuhnya tak berdaya.
Di saat kesadarannya hampir lenyap, samar-samar ia melihat seseorang berlari ke arahnya. Sosok itu melindunginya dengan tubuhnya sendiri. “Jangan sakiti dia! Azzam bukan orang seperti itu!” teriak suara yang sangat dikenalnya.
Itu suara Hamzah, sahabat masa kecilnya yang dulu rajin mengajaknya ke masjid. Tapi saat Azzam memilih jalan gelap, Hamzah tetap teguh di jalannya sebagai santri.
Namun, malam itu menjadi awal dari penyesalan yang membakar jiwanya. Dalam upayanya melindungi Azzam, Hamzah terkena tusukan dari salah satu pemuda beringas itu. Darah mengucur dari tubuhnya, dan Azzam hanya mampu menggenggam tangannya yang dingin.
“Zam… kembali ke jalan-Nya,” bisik Hamzah dengan napas tersengal. “Allah tak pernah menutup pintu bagi hamba yang ingin bertobat.”
Malam itu, Hamzah pergi untuk selamanya, meninggalkan luka yang tak akan pernah sembuh dalam hati Azzam.
---
Sejak saat itu, hidup Azzam berubah. Luka di pelipisnya sembuh, tetapi luka di hatinya tetap menganga. Setiap malam, ia menangis dalam sujud panjang, memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah menyesatkannya. Ia mulai mendekatkan diri pada Allah, mendalami ilmu agama, dan berusaha menebus kesalahannya dengan mengabdi di masjid tempat kakeknya dulu menghabiskan sisa hidupnya.
Namun, perjalanan menuju cahaya tak pernah mudah. Orang-orang di kampung masih mengingat siapa Azzam dulu. Tatapan sinis, bisik-bisik penuh tuduhan, bahkan cemoohan sering ia terima.
“Jangan percaya dia! Dulu dia preman, mana mungkin berubah?”
“Orang seperti dia hanya berpura-pura alim.”
Hatinya teriris mendengar tuduhan itu, tapi ia ingat pesan Hamzah. “Allah tak menilai masa lalumu, tapi bagaimana kau bertaubat.”
Ia tak ingin menyerah. Ia terus berbuat baik tanpa memedulikan ocehan orang. Setiap subuh, ia membersihkan masjid, menyapu halaman, dan menata sajadah. Setiap sore, ia mengajar mengaji anak-anak di kampung. Namun, tetap saja ada yang menatapnya dengan curiga.
Suatu malam, saat ia baru selesai membersihkan masjid, seorang anak kecil berdiri di ambang pintu. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar ketakutan.
“Kak Azzam… tolong Ayahku…”
Anak itu adalah Hasan, putra Pak Karim, salah satu orang yang paling membenci Azzam.
Azzam tak bertanya banyak, ia langsung mengikuti Hasan ke rumahnya. Di sana, Pak Karim tergeletak di lantai, wajahnya pucat pasi. Ia terkena serangan jantung. Tanpa pikir panjang, Azzam menggendongnya ke puskesmas dengan sekuat tenaga.
Saat akhirnya Pak Karim terselamatkan, air mata menetes di pipinya. Ia menggenggam tangan Azzam erat. “Maafkan aku, Nak… Aku salah menilaimu.”
Sejak malam itu, pandangan orang kampung terhadap Azzam perlahan berubah. Bukan karena mereka lupa siapa dia dulu, tapi karena mereka melihat cahaya baru dalam dirinya.
Namun, ujian bagi seorang hamba Allah tak pernah berhenti. Suatu hari, seorang pria asing datang ke kampungnya. Ia mengaku sebagai adik seorang preman yang dulu menyerang Azzam dan menyebabkan kematian Hamzah. Dengan mata penuh amarah, ia menuding Azzam sebagai penyebab tragedi itu.
“Kau! Karena kau, kakakku dipenjara! Aku akan membalasnya!” bentaknya.
Orang-orang yang tadinya mulai menerima Azzam kini kembali ragu. “Jangan-jangan benar, Azzam dulu memang bermasalah.”
Azzam diam. Hatinya bergetar, tapi ia tahu harus menghadapi ini dengan sabar.
“Aku tidak ingin membela diri,” katanya pelan. “Aku memang punya masa lalu yang kelam, tapi aku sudah bertaubat. Jika kau ingin membalas dendam, silakan. Aku hanya bisa berdoa semoga Allah melembutkan hatimu.”
Pria itu terpaku. Ia tidak menyangka Azzam akan berkata demikian. Dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya, mungkinkah seseorang benar-benar bisa berubah?
Hari-hari berlalu, pria itu masih tinggal di kampung, mengawasi Azzam dari jauh. Tapi yang ia lihat bukanlah sosok yang pantas untuk dibenci. Ia melihat Azzam mengajari anak-anak mengaji, membantu orang tua menimba air, dan selalu menjadi yang pertama saat ada orang yang butuh pertolongan.
Hingga suatu hari, ia datang ke masjid, duduk di sudut, memperhatikan Azzam yang tengah membaca Al-Qur’an. Suaranya merdu, lembut, penuh ketenangan.
Saat Azzam selesai, pria itu berjalan mendekat. “Azzam…”
Azzam menoleh dan tersenyum. “Ada yang bisa kubantu?”
Pria itu menggigit bibirnya. Air mata menggantung di pelupuk matanya. “Aku ingin belajar tentang Allah… Sepertimu.”
Azzam menatapnya lama. Lalu, dengan mata berkaca-kaca, ia meraih tangan pria itu dan menggenggamnya erat.
“Allah selalu membuka pintu bagi siapa pun yang ingin kembali,” ucapnya penuh haru.
Malam itu, di lorong takdir yang panjang dan b
erliku, dua jiwa yang pernah diliputi kelam akhirnya menemukan cahaya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
