TAKDIR YANG MERINTIH
Takdir yang Merintih
Pada sunyi yang kuyup rindu,
kusulam namamu di dada langit,
bulan mengulum sendu pilu,
menyulut cahaya yang kian pahit.
Angin berdesir mengusung kisah,
lirih suaranya menyalin luka,
kau bagai senja yang indah megah,
namun lenyap saat kuhendak sentuhnya.
Aku laut yang menyimpan badai,
kau karang bisu yang tak bergeming,
ombak rinduku menghantam nyaring,
namun kau tetap diam membatu.
Jika jarak adalah takdir yang luka,
biarlah rindu menjadi pusara,
jangan tanyakan kapan reda,
sebab cinta ini abadi adanya.
---
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan