CINTA PERTAMA DI KAMPUS TERCINTA
Cinta Pertama di Kampus Tercinta
Aku mengenalnya saat pertama kali melangkah ke kampus ini, Universitas Andalas, sebuah kampus terkenal yang berada di tengah kota Padang. Nama kampus ini sudah terkenal di kalangan banyak orang, dan aku merasa terhormat bisa menuntut ilmu di sini. Namun, di tengah kesibukan kuliah dan segala peraturan yang harus diikuti, ada satu hal yang selalu membuat hari-hariku berbeda: dia, Arumi.
Arumi adalah teman sekelasku di jurusan Sastra Inggris. Awalnya, aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Kami sering duduk berdampingan di ruang kuliah, saling bertukar catatan, atau sekedar berbincang ringan tentang tugas yang diberikan dosen. Aku merasa nyaman dengannya, tak lebih dari itu. Namun, semakin lama, aku mulai merasa ada yang berbeda. Senyumnya yang tulus, caranya memandang dunia seolah penuh harapan, membuat hatiku berdebar. Aku mulai menyadari, mungkin ini yang disebut dengan cinta pertama.
Namun, rasa itu kutahan dalam diam. Aku tidak ingin merusak hubungan kami yang sudah terjalin baik sebagai teman. Aku takut jika aku mengungkapkan perasaanku, semuanya akan berubah, dan kami akan menjadi canggung satu sama lain. Jadi, aku tetap berpura-pura biasa, meskipun hati ini selalu bergejolak setiap kali melihatnya.
Hingga suatu hari, sebuah peristiwa datang yang mengubah segalanya. Seorang pria baru datang di kelas kami, bernama Rizky. Dia terlihat percaya diri dan memiliki pesona yang memikat. Semua orang, terutama Arumi, tampak terkesan dengannya. Aku yang dari jauh melihat mereka semakin sering bersama, mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Ada perasaan cemburu yang datang tanpa bisa kuhindari.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah perasaanku ini hanya sekadar obsesi atau benar-benar cinta? Namun, apa yang membuatku merasa lebih terluka adalah kenyataan bahwa Arumi mulai lebih banyak berbicara dengan Rizky, sering berkelompok dengan dia saat tugas, dan sesekali terlihat berdua di luar kampus. Aku merasa seolah aku kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku.
Suatu sore, saat aku sedang duduk di bangku taman kampus, Arumi mendekat. Wajahnya tampak serius, berbeda dari biasanya yang selalu ceria.
"Kenapa kamu diam saja, Rei? Aku merasa ada yang berubah antara kita," katanya, suaranya terdengar rendah.
Aku terkejut mendengar kata-katanya. Apa yang dimaksud dengan perubahan itu? Aku bingung, tetapi aku mencoba menjaga ketenanganku.
"Ada apa, Arumi? Kamu terlihat tidak seperti biasanya."
Dia terdiam, kemudian menggigit bibirnya. "Aku... aku sebenarnya mulai menyukai Rizky," katanya dengan pelan, matanya tidak bisa menatapku langsung. "Aku merasa dia berbeda. Aku bingung, Rei."
Hatiku hancur mendengarnya. Cinta pertama yang kutahan begitu lama, ternyata harus kalah oleh orang ketiga. Aku merasa seolah langit runtuh di atas kepalaku.
Namun, aku tidak ingin Arumi melihat kelemahanku. Aku mengangguk pelan, meski hatiku menangis.
"Aku mengerti, Arumi. Kalau itu yang kamu rasakan, aku tidak akan menghalangimu," jawabku dengan suara yang serak. "Kamu berhak bahagia."
Waktu berlalu, dan hubungan Arumi dengan Rizky semakin dekat. Aku merasa semakin jauh darinya, namun aku tetap berusaha untuk bertahan sebagai teman, meskipun hatiku terluka. Terkadang, aku bertanya-tanya apakah cinta pertama ini akan tetap tinggal di dalam hatiku selamanya, tanpa pernah terungkapkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, ada sebuah kejadian yang mengubah segalanya. Rizky, yang selalu tampak begitu sempurna di depan Arumi, akhirnya memperlihatkan sisi lain dirinya. Dia mulai berubah, menjadi lebih egois dan tidak menghargai Arumi. Semua itu terungkap ketika Arumi menceritakan kepadaku bagaimana dia merasa ditinggalkan dan tidak dihargai.
"Aku rasa aku salah memilih, Rei," Arumi berkata, dengan mata yang berkaca-kaca. "Rizky tidak seperti yang aku kira."
Aku tidak bisa menahan diri lagi. Perasaanku yang selama ini terkubur dalam-dalam, kini keluar begitu saja. Aku menggenggam tangannya dengan lembut, dan berkata, "Aku sudah ada di sini, Arumi. Aku akan selalu ada untukmu, tidak peduli apa yang terjadi."
Mata Arumi melembut, seolah dia mulai menyadari sesuatu yang telah lama dia abaikan. Kami duduk diam untuk beberapa saat, menikmati kebersamaan yang terasa berbeda dari sebelumnya. Tak perlu kata-kata lagi, karena hatiku dan hatinya sudah saling berbicara.
Akhirnya, cinta pertama yang sempat tertahan, kembali menemukan jalannya. Kami tidak terburu-buru. Kami menjalani hubungan ini dengan lebih hati-hati, penuh pengertian dan kepercayaan. Arumi menyadari bahwa cinta pertama memang selalu datang dengan ketulusan, bukan dengan modus atau kepentingan.
Dan di bawah langit kampus yang luas, kami tahu, bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya, meski harus
melewati banyak halangan dan rintangan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
