Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
ENDAPAN RINDU DI UJUNG WAKTU

ENDAPAN RINDU DI UJUNG WAKTU

Bab: 5

Endapan Rindu di Ujung Waktu

(Cerpen berseri )

Oleh: Sultan Chemistry

Semenjak hari itu, Nadhira tetap datang ke laboratorium. Tapi aku bisa merasakan, tiap langkahnya menyimpan beban. Ia lebih sering diam, hanya berbicara seperlunya. Kadang tersenyum, tapi seperti larutan tak jenuh—mudah berubah menjadi hening.

Suatu sore, aku melihatnya duduk sendirian di belakang lab. Di tangannya, selembar jurnal ilmiah yang tampak tak benar-benar ia baca. Angin sore membawa aroma asam asetat dari ruangan preparasi, bercampur dengan aroma sunyi yang tak bisa dijelaskan.

Aku duduk di sampingnya.

"Masih ingat waktu kita bereksperimen dengan sintesis aspirin?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.

Nadhira menoleh, bibirnya melengkung tipis. "Waktu itu aku salah menakar asam salisilat. Aspirinnya gagal."

"Tapi waktu itu kamu juga bilang, kegagalan itu tetap penting. Karena kita belajar dari rasio yang keliru."

Ia menunduk. Lalu pelan-pelan berkata, “Aku takut, Kak. Takut kalau semua ini hanya sebentar. Takut kalau perjuanganku sia-sia. Dan... takut kehilanganmu sebelum sempat benar-benar mengenalmu.”

Aku terdiam. Kata-katanya membentuk presipitasi dalam benakku, membekas dan sulit larut.

“Nadhira,” kataku, “rindu itu seperti endapan. Ia muncul ketika larutan terlalu jenuh dengan kenangan. Tapi bukan berarti kita harus menghentikan reaksi. Justru saat itulah kita tahu, bahwa kita pernah benar-benar hidup, pernah benar-benar merasa.”

Ia menatapku, perlahan. Air matanya jatuh, diam-diam. Tapi kali ini ia tak menyeka. Mungkin karena ia tahu, seperti larutan pekat, rasa itu tak mudah diencerkan.

“Aku ingin tetap di sini, Kak Riyan. Di antara larutan, logbook, dan semua percakapan absurd kita soal senyawa karbon. Tapi… kalau aku harus pergi nanti, janji ya... jangan melupakan aku.”

Aku menggenggam jemarinya pelan. “Kalau kamu harus pergi, aku akan menunggumu. Karena kamu bukan hanya bagian dari laboratorium ini. Kamu sudah menjadi bagian dari sistem ikatanku.”

Ia tertawa kecil, meski matanya basah. “Sistem ikatan kovalen atau ionik?”

“Kovalen. Karena kita berbagi—bukan hanya elektron, tapi juga harapan.”

Dan di antara senja yang turun perlahan, serta cahaya lampu laboratorium yang mulai redup, aku sadar: cinta kami memang seperti eksperimen jangka panjang. Tak semua harus langsung berhasil. Tapi selama masih ada reaksi, masih ada kemungkinan. Masih ada asa.

Apakah waktu akan menjadi pelarut, atau justru pengikat dalam kisah mereka?

#Tantangan

#Menulis

#Cerpen

#DiksiKimia

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post