HIDROLISIS KENANGAN
Bab 3:
Hidrolisis Kenangan
Cerpen berseri oleh: Muhammad Sultan
Beberapa hari telah berlalu sejak sore itu. Hujan masih setia turun setiap menjelang senja, seolah menjadi katalis yang menghidupkan kembali reaksi-reaksi emosi yang belum selesai. Namun, Nadhira mulai jarang terlihat di laboratorium. Ia lebih sering diam di perpustakaan atau menyendiri di bangku taman kampus, seperti senyawa yang sedang terurai dalam larutan ber-pH ekstrem.
Hari ini aku—Kak Riyan—menemukannya duduk sendiri di sudut taman, di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga. Ia tampak termenung, menatap kelopak yang jatuh seperti serpihan ingatan yang sulit disatukan kembali.
“Kamu menghindar dari praktikum, atau dari seseorang?” tanyaku sambil duduk di sampingnya, menyodorkan sebotol teh dingin.
Ia menerima tanpa bicara, lalu menghela napas. “Dari keduanya, mungkin…”
Aku diam, menatap wajahnya yang semakin tirus. “Kalau kamu butuh tempat untuk menyusun ulang reaksi hidupmu, aku di sini. Aku bukan asisten lab yang sempurna, tapi mungkin bisa jadi penyangga kestabilanmu.”
Nadhira tersenyum kecil. “Kamu terlalu banyak pakai analogi kimia, Kak Riyan…”
Aku tertawa pelan. “Karena kamu adalah sistem tertutup yang butuh energi aktifasi untuk terbuka.”
Ia menggigit bibir bawahnya. Lalu perlahan berkata, “Waktu kecil, aku pernah diberi mikroskop mainan oleh Ibu. Aku senang sekali, merasa dunia bisa kulihat lebih dekat. Tapi sejak Ibu meninggal, Ayah berubah. Ia tak suka aku main di laboratorium sekolah. Katanya, perempuan tak seharusnya berurusan dengan zat kimia berbahaya. Sejak itu, setiap impianku terasa seperti senyawa yang terhidrolisis perlahan—terurai, tak lagi utuh.”
Aku menatapnya, menahan gemuruh di dada. Ingin sekali kVpelVk dia seperti larutan buffer yang meredam perubahan drastis pH hidupnya. Tapi aku tahu, yang bisa kulakukan sekarang adalah menjadi katalis: mempercepat keberaniannya, tanpa ikut dalam reaksinya.
“Nadhira,” ujarku lembut, “kamu tahu, bahkan senyawa benzena yang stabil itu bisa bereaksi kalau kondisinya tepat. Mungkin selama ini kamu bukan lemah, hanya menunggu suhu yang cukup… dan dukungan yang tak menghakimi.”
Matanya berkaca. Ia menunduk, tapi tak menangis. “Aku takut, Kak. Takut jadi perempuan yang membangkang… takut mengecewakan Ayah… takut merasa bersalah.”
“Kamu bukan senyawa racun,” kataku, menatap lurus ke dalam matanya. “Kamu adalah sintesis terindah dari gugus cita dan cinta. Jangan biarkan orang lain menentukan reaksi apa yang boleh kamu jalani.”
Seketika, angin bertiup pelan, menyapu kelopak flamboyan yang berguguran. Nadhira menatap langit, lalu menoleh padaku. “Terima kasih, Kak Riyan. Mungkin… kamu bukan hanya asisten di lab. Tapi juga dalam hidupku.”
Senyum itu, akhirnya kembali. Senyum yang dulu seperti larutan jenuh, kini seolah jadi senyawa supersaturasi—penuh harap, siap mengkristal dalam bentuk baru.
Dan aku tahu, reaksi ini baru saja dimulai.
---
Bagaimana kisah selanjutnya antara Chemistry cinta romantis Dr Riyan dengan Nadhira?
Ikuti bab 4 berikutnya
---
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
