RESONANSI KENANGAN
Bab 8: Resonansi Kenangan
Cerpen berseri
Oleh: Sultan Chemistry
Langit kota kembali muram saat Kak Riyan menjejakkan kaki di kampus. Setelah perjalanan yang melelahkan, hatinya tak bisa tenang. Surat dari Nadhira membuat pikirannya sibuk membayangkan segala kemungkinan. Apakah Nadhira kembali hanya untuk menyelesaikan studi? Atau untuk melarikan diri dari dunia yang tak memberinya ruang?
Laboratorium tampak lengang siang itu. Bau larutan asam asetat masih menggantung di udara, bercampur dengan kenangan yang belum netral. Kak Riyan melangkah ke sudut ruangan, tempat biasa Nadhira duduk dengan kacamata laboratorium yang sedikit kebesaran dan buku catatan penuh coretan manis.
Tiba-tiba, dari balik pintu kaca, suara langkah terdengar. Langkah ringan, namun penuh keraguan. Kak Riyan menoleh.
“Nadhira…” ucapnya pelan, nyaris seperti desah.
Gadis itu berdiri di ambang pintu. Rambutnya tergerai bebas, tanpa kerudung laboratorium. Ada semburat letih di matanya, tapi juga kelegaan yang tak bisa disembunyikan.
“Maaf, Kak. Aku kembali tanpa kabar. Aku hanya… butuh ruang bernapas,” katanya lirih.
Kak Riyan mendekat, menjaga jarak seolah mereka adalah senyawa aromatik yang tak ingin saling bereaksi terlalu cepat. “Kamu nggak perlu minta maaf. Aku yang harusnya bertanya… kamu baik-baik saja?”
Nadhira tersenyum tipis. “Belum, tapi aku berusaha. Dunia yang kupijak dulu terlalu sempit. Sekarang aku ingin membangun sistem baru—yang terbuka, yang memberiku ruang untuk menjadi diri sendiri.”
Mereka terdiam beberapa saat. Kak Riyan lalu menunjuk kursi di sebelahnya.
“Ayo duduk. Kalau kamu ingin mulai dari awal, aku siap jadi larutan penyangga-mu,” ujarnya setengah bercanda, tapi matanya serius.
Nadhira tertawa kecil. “Masih suka pakai analogi kimia, ya?”
“Cuma kalau itu bisa bikin kamu nyaman.”
Hening sesaat. Lalu Nadhira menatapnya lekat-lekat.
“Kak… kamu masih simpan semua catatan eksperimenku?”
“Masih. Bahkan yang berisi curhatanmu tentang senyawa aldehid yang kamu bilang mirip ayahmu.”
Nadhira tertawa geli. “Aldehid itu reaktif dan emosional, tapi penting dalam reaksi kondensasi.”
“Seperti kamu,” balas Riyan, lembut.
Seketika, resonansi di antara mereka kembali terbangun. Tak perlu ikatan kovalen, cukup gaya tarik antar-molekul rasa yang sudah lama ada. Di ruang laboratorium itu, mereka bukan lagi dosen dan mahasiswa. Tapi dua kutub yang akhirnya menemukan arah resonansi masing-masing.
Dan di tengah ruangan penuh tabung reaksi dan buret, Kak Riyan tahu—reaksi antara dia dan Nadhira baru saja mencapai keadaan transisi.
Butta Panrita Lopi, 26 April 2025
#Tantangan
#Menulis
#Cerpen
#DiksiKimia
#Sorotan
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
