SEGENGGAM ASA DALAM GUGUS RINDU
Cerpen berseri Berdiksi Kimia Cinta
Bab: 1
Segenggam Asa dalam Gugus Rindu
Cerpen : Sultan Chemistry
Di laboratorium senyap itu, hanya ada denting kaca dan detak hatiku. Namanya Nadhira—mahasiswi magang dari Fakultas Kimia. Sejak pertama kali ia masuk membawa catatan dan senyum sederhana, aku tahu... ia bukan sekadar senyawa sementara dalam hidupku. Ia adalah benzena di siklus aromatik kalbu yang stabil, meski dunia berputar dalam reaksi acak.
Kami kerap bekerja bersebelahan. Aku sibuk menyiapkan kromatografi, dia sibuk menimbang reagen. Kadang-kadang kami berbicara, membahas perbedaan antara ester dan eter, atau bagaimana etanol bisa menjadi pelarut sekaligus pelipur.
Suatu hari, saat senja menjingga menembus kaca laboratorium, ia bertanya, “Pak Riyan , menurut Bapak... cinta itu lebih mirip gugus fungsi apa?”
Aku terdiam sesaat. Pertanyaan itu seperti reaksi endoterm yang menyerap semua pikiranku. “Cinta…” jawabku pelan, “bisa jadi seperti alkohol. Menghangatkan, memabukkan, tapi juga bisa menenangkan. Namun terkadang, cinta juga seperti keton—berdiri sendiri, walau memiliki dua sisi.”
Ia tertawa kecil. Tawanya seperti desah gas keluar dari tabung gas mulia—ringan, murni, dan tak pernah membuat sesak. “Kalau saya, mungkin cinta itu seperti benzena. Sederhana secara visual, tapi kompleks di dalam. Resonansinya bisa bikin orang betah di dalamnya.”
Aku terpaku. Saat itu aku tahu: aku telah larut dalam larutan rindu. Mungkin ini bukan cinta biasa. Ini reaksi kimia cinta—spontan, eksoterm, dan tak bisa dihentikan begitu saja.
Beberapa bulan berlalu. Magangnya usai. Ia pergi meninggalkan laboratorium yang kembali sunyi. Tapi tak ada yang bisa menetralisasi ingatanku tentangnya. Tak ada buffer yang bisa menstabilkan pH hatiku yang tiba-tiba berubah drastis.
Kini, aku menulis ini di jurnal pribadiku. Mengingat Nadhira bukan lagi sebagai mahasiswi magang, tapi sebagai reaksi cinta yang tak pernah selesai. Ia adalah ester kenangan yang wangi, benzena rasa yang stabil, dan asam benzoat yang tak mudah terurai oleh waktu.
Dan aku... masih menyimpan segenggam asa dalam tabung reaksi, menunggu… siapa tahu suatu hari, ia kembali, dan kita bisa memulai sintesis yang tak lagi tertunda.
________
Bagaimana kisah selanjutnya tentang dosen muda Dr. Riyan dan Mahasiswa penelitian Nadhira?
Apakah takdir akan mempertemukan kembali?
Tunggu kisahnya di episode berikutnya!
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
