Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
TITRASI DILEMA

TITRASI DILEMA

Bab 4:

TITRASI DILEMA

(Cerpen berseri)

Oleh: Sultan Chemistry

Pagi itu, suasana laboratorium tampak lengang. Hanya suara detik jam dinding dan tetes-tetes reagen yang menemani. Aku sedang menyusun laporan akhir praktikum ketika pintu laboratorium terbuka perlahan. Nadhira masuk dengan langkah ragu, membawa map cokelat di tangan dan sebuah kotak kecil di pelukannya.

“Nggak nyangka kamu datang pagi-pagi begini,” ucapku tanpa menoleh, tapi senyum sudah menggantung di bibir.

“Aku... mau bicara, Kak Riyan,” suaranya pelan, nyaris seperti larutan encer yang tak terdengar saat dituangkan ke gelas kimia.

Aku berbalik. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan badai.

“Ayah ingin aku pulang. Katanya, sudah waktunya aku mempersiapkan pernikahan,” katanya lirih, lalu meletakkan map di meja. “Dia bilang, dunia laboratorium bukan tempat untuk perempuan. Dia khawatir aku terlalu keras kepala, terlalu bebas, terlalu... mandiri.”

Aku terdiam. Kata-kata itu menusuk seperti indikator fenolftalein yang berubah merah muda di tengah larutan basa. Indah, tapi menandakan sesuatu yang genting.

“Kamu setuju?” tanyaku hati-hati.

“Aku... terjebak di antara dua titik ekivalen,” jawabnya dengan nada getir. “Antara menjadi anak yang patuh, atau wanita yang memilih hidupnya sendiri.”

Aku melangkah mendekat, mengambil map itu dan membukanya. Di dalamnya, ada salinan formulir cuti studi. Aku menatapnya dalam diam.

“Nadhira,” kataku pelan, “hidup ini bukan soal pH netral. Kadang kamu harus memilih jadi asam atau basa agar bisa bereaksi. Kalau kamu terus diam di titik netral, kamu akan stagnan. Tak akan berubah.”

Ia menunduk. Jemarinya gemetar saat membuka kotak kecil yang tadi dibawanya. Isinya: mikroskop mainan yang pernah ia ceritakan dulu, kini sudah tua, kacanya retak, tapi tetap menyimpan jejak cinta masa kecil pada sains.

“Ini kenangan terakhir sebelum semuanya berubah,” bisiknya. “Mungkin setelah ini, aku harus melepaskan semuanya. Laboratorium. Penelitian. Impian. Dan... mungkin juga kamu.”

Aku merasa dadaku direaksikan dengan larutan pekat yang memunculkan buih luka. Tapi aku tahu, reaksi ini tak boleh impulsif. Aku harus tenang, seperti saat meneteskan titran, sedikit demi sedikit.

“Kalau kamu pergi, aku nggak akan menghentikanmu,” ujarku, meski hatiku bergetar. “Tapi ingat, kamu bukan ion bebas. Kamu punya muatan, punya tujuan. Jangan biarkan siapa pun mengendapkan impianmu.”

Nadhira menatapku. Lama. Dalam diam itu, kutahu ia sedang menghitung kembali konsentrasi kekuatan dan keberaniannya.

Lalu ia berkata, pelan tapi pasti, “Kalau begitu... izinkan aku menunda cuti ini. Aku belum siap menyerah. Aku ingin tetap mencoba... dengan atau tanpa restu.”

Aku tersenyum. “Reaksi yang bagus. Kamu sudah menemukan indikator hatimu.”

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, kami menyadari bahwa perjuangan cinta dan impian memang tak bisa netral. Ia harus dititrasi perlahan—hingga menemukan titik ekivalennya yang sejati

______

Apakah Nadhira akan patuh pada kehendak Ayahnya?

Atau dia melawan kehendak Ayahnya dan berusaha meyakinkan?

Butta Panrita Lopi, 21 April 2025

#Tantangan

#Menulis

#Cerpen

#DiksiKimia

@sorotan

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post