Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

UANG UNTUK CINTA PALSU

Siap. Ini cerpen dengan gaya penulisan

Judul: Uang untuk Cinta Palsu

 

Namanya Fira. Wajahnya cantik, tutur katanya manis, dan penampilannya selalu membuat mata laki-laki terpaku. Ia tahu betul cara memainkan pesona. Bukan sekadar untuk mencari teman, tapi lebih dari itu — mencari "pendukung dana."

 

Fira punya banyak teman pria. Semuanya dipanggil dengan nama sayang yang sama: "Yang." Tapi tak satu pun tahu bahwa mereka bukan satu-satunya.

 

"Yang, aku lagi butuh banget uang. Boleh pinjam dua juta? Adik aku sakit, masuk rumah sakit. Aku bingung harus minta tolong ke siapa lagi," tulisnya pada Dani, salah satu pria yang sedang terbuai rayunya.

 

Dani terdiam sejenak. Ini sudah ketiga kalinya Fira meminta uang dengan alasan keluarga. Tapi ia terlalu sayang, terlalu dalam untuk menolak. Tanpa berpikir panjang, Dani mengirim uangnya lewat transfer bank.

 

"Terima kasih, Yang. Kamu memang yang paling aku percaya," balas Fira, lengkap dengan emoji hati.

 

Sore itu, Fira bersandar di sofa kafe mahal. Di depannya, ada lelaki lain — Andi — yang sedang tertawa kecil melihat rayuan Fira.

 

"Yang, kamu ganteng banget hari ini. Aku bahagia bisa ketemu kamu," bisik Fira lembut.

 

Andi pun tak sadar, ia korban berikutnya.

 

Begitulah hari-hari Fira. Menggoda, merayu, menangis jika perlu, lalu menghilang setelah dapat apa yang ia mau. Hatinya dingin, dan cintanya hanya basa-basi. Ia bermain perasaan seolah cinta itu bisa dibeli — padahal yang ia cari cuma satu: uang.

 

Namun, roda selalu berputar. Suatu hari, semua mantan korbannya bertemu dalam sebuah grup yang tak disengaja. Satu per satu mulai menyadari bahwa mereka dimanfaatkan oleh perempuan yang sama. Nama Fira pun menjadi bahan pembicaraan. Dari mulut ke mulut, kebenaran akhirnya terungkap.

 

Kini Fira kesepian. Tak ada lagi yang percaya padanya. Akunnya diblokir, nomornya disebar sebagai peringatan. Dan untuk pertama kalinya, Fira menangis — bukan karena sedang berbohong, tapi karena benar-benar kehilangan.

 

 

---
DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post