Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

ALIENATED

 

 

Judul : ALIENATED

Karya: Muhammad Sultan 

 

Aku duduk di antara serpihan bayang yang tergantung di jendela, menatap langit pucat yang mengguratkan luka. Matahari seolah enggan menyapa lantai kamarku yang lembap. Barangkali ia pun turut merasakan kehampaan yang meranggas jiwaku.

 

Namaku Saka. Tapi belakangan, aku merasa kehilangan definisi dari nama itu sendiri. Apa gunanya sebuah nama jika aku tak mengenal diriku lagi? Dulu, segalanya tampak jelas—aku anak sulung, aku lulusan terbaik, aku penulis puisi, aku kekasih dari wanita yang paling kucintai. Kini, semuanya tinggal puing, seperti reruntuhan istana yang pernah menjulang namun hancur karena gempa dari dalam diri sendiri.

 

Aku bangun dari kursi tua yang sudah lama tak kukenali kenyamanannya. Setiap serat kayunya menyimpan rintihanku. Aku melangkah menuju meja kayu yang berdebu, membuka buku catatan kulit yang dulu begitu kucintai—tempat kutitipkan bait-bait puisi yang menjagaku tetap waras.

 

Namun jari-jariku gemetar. Pena di tangan terasa seperti belati. Aku takut menulis, takut jujur pada diri sendiri.

 

"Mengapa kau takut menulis, Saka?" suara itu berbisik dari sudut ruang.

 

Aku menoleh. Tak ada siapa pun. Hanya bayanganku sendiri yang merambat di dinding kusam.

 

"Karena aku takut membaca luka yang telah kupendam," bisikku lirih. Suara itu adalah suaraku sendiri, namun seolah berasal dari entitas asing yang kini menempati tubuhku.

 

Sudah enam bulan sejak Ayah pergi. Bukan pergi biasa—ia pergi karena kecewa padaku. Kata-katanya masih terngiang tajam, menusuk hingga tulang belakang.

 

Kau mengecewakan keluarga, Saka. Aku tak punya anak sepertimu.

 

Semua itu karena aku menolak melanjutkan warisan perusahaan keluarga dan memilih menjadi penulis. Aku mencintai dunia kata. Tapi cinta itu membuatku tercerabut dari akar.

 

Kepergian Ayah tak hanya membuat rumah menjadi sunyi, tapi juga membuatku kehilangan pijakan. Aku hidup, tapi tidak benar-benar hidup. Aku mengembara dalam rumah sendiri, merasa asing pada setiap dinding, setiap cermin, bahkan pada wajah yang menatapku dari balik pantulan.

 

Aku merasa... terasing.

 

Alienated.

 

Kamar ini dulunya penuh suara tawa. Sejak kecil, aku terbiasa mendengar Ayah memutar musik klasik, membaca berita sambil menyeruput kopi. Tapi kini, hanya derit jendela yang menyahut keheningan. Rumah besar di pinggiran kota Bogor ini berubah menjadi museum kenangan yang dingin.

 

Aku berjalan menyusuri lorong rumah, menyentuh rak buku, bingkai foto keluarga yang masih menggantung rapi. Wajah Ayah dan Ibu tersenyum dari balik kaca, sementara aku hanya bisa menatap mereka sebagai siluet masa lalu.

 

Dunia yang dulu kupuja, kini seperti ruang hampa yang menelanku perlahan. Sahabat-sahabat menjauh, mungkin bosan dengan kesunyianku. Cinta yang dulu menyala, kini padam oleh kebekuan jiwa. Naira, wanita yang dulu kuberi dunia, kini hanya nama di daftar pesan tak terbalas.

 

Aku pun mulai bertanya: apakah aku terlalu egois karena memilih mimpiku sendiri? Apakah mengejar kata-kata sebanding dengan kehilangan cinta dan keluarga?

 

Tiap malam, aku duduk di bawah lampu meja yang redup, mencoba menulis. Tapi halaman-halaman itu tetap putih. Seputih ruang jiwaku yang hampa. Dalam sepi yang menggigil, aku kadang berbicara dengan diri sendiri. Memecah keheningan yang menyiksa, seolah suara batin bisa mengobati rasa kehilangan.

 

Namun yang kutemui justru jurang. Aku terperosok ke dalam kesadaran akan kehancuran yang kubuat sendiri. Dan yang paling menakutkan adalah: aku mulai menikmati keterasingan itu.

 

Suatu malam, hujan turun deras, seperti hendak menenggelamkan dunia. Aku membuka jendela dan menatap langit yang meraung. Aku ingin menjerit, namun suara tercekat di tenggorokan. Tiba-tiba, aku teringat satu puisi yang dulu kutulis untuk Naira:

 

Kau adalah senyap dalam bisingku, Dan riuh dalam sunyiku. Saat semesta menggigil, Hanya matamu yang tetap hangat.

 

Seketika aku menangis. Bukan hanya karena kenangan, tapi karena aku sadar: aku tak pernah benar-benar memperjuangkan mereka. Aku memilih menjauh, mengasingkan diri, membiarkan luka tumbuh tanpa pernah mencoba mengobatinya.

 

Di balik pintu hati yang terkunci, aku mendengar suara Ayah, bukan dalam nada marah, melainkan lirih: "Aku hanya ingin kau bahagia, Saka. Tapi kau harus tahu arti tanggung jawab."

 

Tanganku menggenggam pena. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, aku menulis lagi. Bukan puisi, bukan cerita—tapi surat. Surat kepada Ayah. Kepada Ibu. Kepada Naira. Kepada diriku sendiri yang telah lama hilang.

 

 

---

 

Kepada Ayah,

 

Aku tahu aku telah mengecewakanmu. Aku memilih jalan yang tidak kau pahami. Tapi sungguh, aku tidak menyesal telah mencintai dunia kata-kata. Yang kusesali hanyalah tidak pernah mencoba menjelaskan mengapa aku memilihnya.

 

Aku ingin kau tahu, Ayah, bahwa aku tidak membenci warisanmu. Aku hanya takut kehilangan diriku sendiri jika menempuh jalan yang bukan milikku.

 

Aku berharap suatu hari kau bisa memaafkanku, meski aku sendiri masih belajar memaafkan diriku.

 

Kepada Ibu,

 

Maaf karena jarang pulang, padahal wajahmu selalu menjadi pelita yang kutuju dalam gelap. Aku tahu kau menangis diam-diam setiap malam. Aku tahu, Bu. Aku tahu.

 

Kepada Naira,

 

Jika kau membaca ini, ketahuilah bahwa cintaku tidak pernah pudar. Tapi aku hanyalah pujangga yang terlalu tenggelam dalam sunyi, hingga lupa bahwa cinta butuh suara.

 

Maaf, karena terlalu sibuk merangkai kata, aku lupa menyentuh hatimu.

 

Dan kepada diriku sendiri,

 

Kau bukan pecundang. Kau hanya manusia yang tersesat. Tapi hari ini, kau mulai menyalakan cahaya kecil. Teruskan. Jangan padamkan.

 

 

---

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post