REAKSI REDOKS CINTA
Segenggam Asa dalam Gugus Rindu:
Bab 10: Reaksi Redoks Cinta
Oleh: Sultan Chemistry
Malam mulai menyapa langit fakultas dengan selimut bintang yang jarang. Di ruang baca perpustakaan kimia, Nadhira duduk sendirian, dikelilingi jurnal-jurnal tebal dan catatan riset. Wajahnya penuh letih, tapi bukan karena beban akademik—melainkan oksidasi rasa yang mulai membuat hatinya keruh.
Sejak bekerja di bawah bimbingan Dr. Edwin, banyak yang berubah. Ia mulai sibuk, sering keluar kampus, bahkan kadang absen di jadwal bimbingan Kak Riyan. Namun, yang paling membuat jantungnya tidak stabil adalah caranya sendiri mulai kehilangan arah. Ia merasa seperti senyawa yang terus-menerus dioksidasi, kehilangan elektron, kehilangan ketenangan.
"Sendirian?" suara itu datang dari belakang.
Nadhira menoleh dan mendapati Kak Riyan berdiri dengan senyum yang sedikit getir. Ia mengenakan jaket abu-abu yang biasa ia pakai saat lembur di lab. Aroma kopi dari termos kecil di tangannya menyebar perlahan.
"Kak... belum pulang?" tanya Nadhira, berusaha menyembunyikan raut cemas.
“Belum. Aku tahu kamu di sini. Aku bawa ini,” ujarnya sambil menyodorkan secangkir kopi hangat.
Nadhira menerimanya, lalu mereka duduk berhadapan. Sunyi, hanya suara kipas angin tua yang memecah keheningan.
"Aku tahu kamu sedang bingung, Nad," ucap Riyan akhirnya. "Antara karier dan rasa. Antara impian dan... hati."
Nadhira menatapnya, matanya basah tapi tak tumpah. “Kenapa ya, Kak… kadang cinta terasa seperti reaksi redoks. Satu pihak teroksidasi, satunya tereduksi. Tapi akhirnya, selalu ada yang kehilangan sesuatu.”
Riyan mengangguk pelan. “Karena cinta yang terlalu mengorbankan diri sendiri, lama-lama tak sehat. Tapi cinta yang tak mau memberi ruang... bisa jadi racun juga.”
“Jadi... kita ini sedang apa, Kak?” bisik Nadhira. “Aku takut, Kak. Kalau aku memilih impianku... apakah aku akan kehilangan kak Riyan?”
Kak Riyan tersenyum lelah. “Kalau kamu memilih impianmu, maka aku hanya berharap bisa menjadi bagian dari reaksimu—walau hanya sebagai katalis. Tidak ikut berubah, tapi tetap membuat segalanya berjalan lebih cepat dan lebih baik.”
Nadhira terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih kuat dari larutan asam kuat. Tak ada pengakuan cinta, tak ada pelukan, hanya ketulusan murni—yang seringkali lebih menyentuh daripada janji-janji manis.
"Terima kasih, Kak... sudah tidak membuatku memilih antara kamu dan cita-citaku."
Riyan menatapnya dalam, lalu berkata lirih, “Dan jika nanti kamu lelah, tereduksi oleh dunia... pulanglah ke tempat di mana kamu tak harus menjadi apa pun, cukup jadi dirimu sendiri. Aku akan tetap di sini.”
Saat mereka berpisah malam itu, tak ada ciuman perpisahan, tak ada genggaman. Hanya senyawa cinta yang terus berproses dalam kesetimbangan tak sempurna.
Dan di luar sana, hujan pun turun perlahan. Seperti reaksi netralisasi setelah badai asam yang panjang.
______
Bagaimana cinta Nadhira kepada Dr Edwin?
Apakah akan berakhir sampai di sini?
Ikuti terus kisahnya!
Butta Panrita Lopi, 2 Mei 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan