Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

DUA TAKDIR DI BAWAH LANGIT

Dua Takdir di Bawah Langit: Raja Firaun dan Bilal bin Rabah 

 

Oleh: Muhammad Sultan

 

Ada yang bangkit di puncak kekuasaan, lalu terbenam bersama keangkuhan.

Ada pula yang tumbuh dari debu kehinaan, namun bersinar karena cahaya iman.

 

Di antara riak waktu dan detak sejarah, dua nama terukir sebagai cermin nasib manusia: Firaun, sang raja yang menantang langit, dan Bilal bin Rabah, budak hitam yang dielu-elukan langit karena seruan tauhidnya. Kisah keduanya seperti dua aliran sungai: satu mengalir menuju lautan kemurkaan, satu mengalir menuju taman keridhaan.

 

Firaun: Mahkota yang Menjerat Lehernya Sendiri

 

Mesir Kuno—tanah yang megah dengan piramida menjulang dan Nil yang tak pernah kering—menjadi panggung keangkuhan seorang penguasa. Firaun berdiri di atas tahtanya dengan dada membusung, menyangka dirinya penguasa segala kehidupan. Ia bukan sekadar raja, tapi menjelma sebagai simbol kesombongan manusia. Dengan lidahnya, ia berkata kepada rakyat: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”

 

Ia bukan tak diberi peringatan. Musa, sang nabi, datang membawa tanda-tanda kebesaran Tuhan. Sungai berubah darah, hujan katak dan belalang mengguncang ladang-ladang. Tapi Firaun tetap membatu. Ia mencambuk kebenaran, menenggelamkan suara-suara yang membawa cahaya.

 

Akhirnya, laut yang seharusnya menjadi batas kekuasaan, menjadi kuburnya yang dingin. Air Laut Merah menelan tubuh dan sejarahnya, namun Allah sengaja menyelamatkan jasadnya agar menjadi pelajaran bagi umat setelahnya. Sebuah tubuh yang diawetkan, bukan untuk dikenang, tapi untuk diwaspadai: bahwa kekuasaan tanpa iman hanya akan melahirkan kejatuhan yang tragis.

 

Bilal: Budak Hitam, Hati yang Putih

 

Jauh dari istana megah dan gemerlap emas, di gurun yang tandus dan terik, seorang budak bernama Bilal bin Rabah hidup dalam keterhinaan sosial. Kulitnya hitam legam, statusnya rendah, tubuhnya diperdagangkan seperti barang. Tapi Tuhan tak menilai dari warna kulit dan garis keturunan.

 

Ketika Islam datang menyapa padang pasir, Bilal menyambutnya dengan dada terbuka. Tauhid menjadi pembebas jiwanya, meski tubuhnya masih dirantai. Ia diseret ke padang pasir, dilempar ke atas batu panas, dan ditindih batu besar di dadanya. Namun dari mulutnya hanya keluar satu kalimat, berulang-ulang laksana mantra dari langit:

“Ahad... Ahad... Ahad...”

Satu Tuhan. Satu cinta. Satu tujuan.

 

Hingga Allah meninggikannya di dunia dan akhirat. Ia menjadi muadzin pertama dalam sejarah Islam. Suaranya, yang dahulu dikerdilkan, kini bergema dari menara menuju langit, membangunkan jiwa-jiwa yang lalai. Bahkan Rasulullah SAW berkata bahwa ia mendengar suara terompah Bilal mendahului langkahnya di surga. Sungguh, yang hina di mata manusia, bisa menjadi mulia di sisi Allah.

 

Ibrah yang Menyala di Setiap Hati

 

Firaun dan Bilal adalah dua wajah dari satu panggung kehidupan. Satu meninggi hingga tak mengenal langit, satu merendah hingga dirangkul langit. Perbedaan mereka bukan semata latar belakang atau warna kulit, tapi soal isi hati. Firaun bergelimang kuasa namun kosong dari iman, sedangkan Bilal kehilangan segalanya di dunia, tapi dipenuhi cahaya tauhid yang tak padam.

 

Pelajaran itu tetap relevan hari ini.

Kita hidup dalam dunia yang masih mengagungkan rupa, jabatan, dan kekayaan. Tapi Allah tak menimbang seperti manusia. Yang mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. Yang putih bukan kulitnya, tapi jiwanya. Yang tinggi bukan mahkotanya, tapi akhlaknya.

 

Lihatlah, betapa indah cara langit menilai:

Bilal bin Rabah, sang budak hitam, kini dikenang setiap kali azan menggema dari menara.

Sedangkan Firaun, sang penguasa dunia, kini jadi pelajaran di lembaran sejarah.

 

Maka siapakah kita hendak meneladani?

Firaun yang ditenggelamkan oleh kesombongannya?

Atau Bilal yang diangkat karena keikhlasannya?

 

Langit sudah menjawab. Kini giliran kita memilih takdir.

 

 

Bulukumba, 17 Juni 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post