HIJRAH SEBUAH SERUAN DARI LANGIT
Hijrah: Sebuah Seruan dari Langit Waktu
Penulis : Muhammad Sultan
Tatkala langit merangkai malam dalam selendang Muharram, detik-detik tak lagi sekadar angka. Ia menjelma detak jiwa yang mengalun dalam simfoni sejarah. Tahun Baru Islam bukanlah perayaan duniawi yang riuh dengan kembang api, tetapi peringatan sunyi tentang perjalanan agung—hijrah—yang menuntun ruh dari gelap menuju cahaya, dari nestapa menuju bahagia yang hakiki.
Hijrah. Satu kata yang lahir dari rahim waktu dan perjuangan, mengalir dari jejak kaki Rasulullah ﷺ yang menyusuri pasir panas Mekkah menuju Madinah. Di situlah awal dari peradaban yang ditulis dengan tinta langit. Bukan darah kebencian, melainkan air mata cinta dan pengorbanan.
Pada tahun ketiga belas kenabian, Muhammad ﷺ menggenggam keimanan yang telah dilukai, dipukul, disakiti, dan dihina. Namun beliau tak pernah membalas dengan dendam, melainkan dengan langkah penuh harap, menuju kota yang belum ia kenal, tapi telah dijanjikan oleh Rabb semesta alam. Kota itu kemudian menyambutnya bukan hanya dengan tangan, tetapi dengan jiwa.
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Ia adalah pembelahan ruh dari masa lalu yang keruh menuju cakrawala kehidupan yang lebih jernih. Ia bukan pelarian, tapi penyerahan. Bukan lari dari masalah, tapi menuju solusi Ilahi. Dan kini, ketika angka tahun kembali pada nolnya, kita ditanya oleh waktu: sudahkah engkau berhijrah dari dengki ke lapang hati? Dari cinta dunia ke rindu akhirat? Dari gelisah pada manusia ke tenang dalam sujud?
Tahun Baru Islam bukan hanya momen mengganti kalender, tetapi saat mengoreksi peta jiwa. Mengingat bahwa Sayidina Umar bin Khattab—sang singa padang pasir—telah menjadikan hijrah sebagai awal penanggalan umat. Karena ia tahu, perubahan hakiki tak dimulai dari peristiwa lahir, tapi dari keputusan batin untuk kembali kepada Tuhan.
Wahai jiwa yang mencari cahaya, Muharram adalah gerbang emas tempat engkau bisa memulai segalanya kembali. Bukan dengan teriakan, tapi dengan keheningan yang menyala. Dengan tekad yang tak kasat mata, namun mengakar dalam amal. Hijrah bukan milik masa lalu. Ia adalah napas yang hidup dalam setiap pilihan kita hari ini.
Maka marilah kita menuliskan tahun ini dengan tinta yang lebih bening, di atas lembaran jiwa yang telah kita basuh dengan taubat. Agar kelak, saat ajal mengetuk, kita dapat berkata dengan yakin, “Aku telah berhijrah, ya Rabb... dari diriku yang lama menuju cahaya-Mu yang abadi.”
Bulukumba, 27 Juni 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
