Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

REAKSI PENGIKATAN

Bismillah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bab 22:

REAKSI PENGIKATAN

Sultan Chemistry

Sejak pertemuan sore itu, hubungan antara Kak Riyan dan keluarga Nadhira memasuki fase baru. Mereka tak lagi sekadar dua kutub yang tertarik, tapi mulai membentuk ikatan yang stabil—meski belum sepenuhnya setimbang.

Hari-hari berlalu dengan cepat. Kak Riyan mulai sering datang ke rumah, membantu Ayah memindahkan buku-buku tua ke rak, mendengarkan cerita masa muda Ayah tentang laboratorium, dan terkadang duduk berdua dengan Ibu untuk mencicipi resep kue yang akan disiapkan untuk lamaran.

Namun, seperti hukum Hess yang tak bisa diabaikan, energi dari masa lalu tak hilang begitu saja. Ia hanya berpindah bentuk, menunggu waktu untuk muncul dalam bentuk lain.

Suatu malam, Nadhira baru saja pulang dari kampus. Langit mendung, dan udara membawa aroma ozon. Di meja makan, Ayah duduk dengan wajah keruh, memegang sebuah map cokelat.

“Duduklah, Nadhira,” ucap Ayah, nadanya dingin.

Ia duduk dengan hati gelisah. Tak lama kemudian, Naufal juga datang, membawa ponsel dengan ekspresi tegang.

“Ada yang harus kalian tahu,” kata Ayah pelan. “Tadi pagi, seseorang datang ke kantor. Seorang perempuan.”

“Perempuan?” tanya Nadhira lirih.

Ayah membuka map itu. Di dalamnya ada salinan surat dan beberapa lembar foto. “Namanya Livia. Dia mengaku pernah bertunangan dengan Kak Riyan. Bahkan, menurutnya, mereka hampir menikah sebelum lelaki itu memilih ‘menghilang’.”

Dunia seolah berhenti berdetak. Nadhira merasa seperti senyawa organik yang tiba-tiba dikenai asam kuat—meleleh perlahan, kehilangan struktur.

“Ayah tidak ingin mempercayai sepenuhnya. Tapi Livia menunjukkan bukti. Foto-foto, tiket penerbangan ke Yogya, dan… surat tangan dari Riyan yang ditulis setahun lalu.”

Naufal menambahkan, “Aku juga sempat cek media sosialnya. Perempuan itu memang aktif memposting kenangan-kenangan mereka.”

Nadhira terdiam. Di kepalanya, ribuan reaksi kimia tak selesai berkecamuk. Apakah semua ini nyata? Apakah selama ini Kak Riyan menyimpan sesuatu?

“Besok,” ujar Ayah tegas, “undang Riyan ke sini. Aku ingin mendengar penjelasannya langsung. Kalau dia benar-benar jujur, maka ikatan ini akan diuji… tapi jika tidak—reaksi ini harus dihentikan.”

Nadhira menatap kosong pada lampu di atasnya. Seperti cahaya ultraviolet yang tak terlihat, tapi perlahan membakar.

Malam itu, ia tak bisa tidur. Ia memandangi cincin kecil yang sudah dibeli diam-diam bersama Ibu. Ia memikirkan semua momen bersama Kak Riyan. Apakah cinta mereka hanyalah campuran tak homogen—terlihat menyatu, tapi mudah terpisah bila dikocok?

Atau justru… ini semua hanya uji ketahanan sebelum mencapai ikatan sejati?

Butta Panrita Lopi, 16 Juni 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post