Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

HUJAN DI BULAN JULI

HUJAN DI BULAN JULI

Penulis: Sultan Chemistry

Langit bulan Juli biasanya bersih dan hangat. Namun hari ini, awan kelabu mengendap di atas kota tua. Udara lembap, rintik hujan turun perlahan seperti partikel cinta yang jatuh satu per satu ke dalam tabung kenangan. Seolah semesta sedang mengaduk reaksi kimia di dalam bejana waktu—diam-diam, perlahan, tapi pasti berubah wujud.

Laras berdiri di bawah halte tua yang sudah mulai keropos dimakan usia. Tubuhnya menggigil bukan karena dingin, melainkan karena rasa yang sejak lama ia simpan seperti larutan jenuh dalam hati. Di tangannya, ia menggenggam sebuah surat. Kertasnya mulai lusuh, tak ada garis, hanya tulisan tangan sederhana. Tapi ia hafal setiap lekuk hurufnya. Ia membaca lagi, dengan suara nyaris tak terdengar:

Laras, jika suatu hari nanti aku tak kembali, jangan salahkan waktu. Mungkin cinta kita hanya sebatas eksperimen yang tak berhasil. Tapi ketahuilah, setiap Juli, aku selalu mengingatmu. Hujan adalah bagian dari kita. Jika langit menangis, itu bukan luka, tapi sisa kenangan yang belum larut.

Ia menarik napas panjang. Rasa itu kembali mengendap, menggumpal seperti endapan garam dalam labu destilasi. Hujan semakin deras. Di bawah payung langit yang koyak, Laras kembali pada satu masa: dua belas tahun silam, di tempat ini juga.

Hari itu juga hujan di bulan Juli. Rayhan, kekasih yang ia kenal sejak SMA, pamit untuk kuliah di luar negeri, mengambil jurusan teknik kimia. Di halte ini, mereka berteduh sambil saling menatap. Rayhan menggenggam tangannya lalu berkata dengan pelan namun mantap:

"Aku akan kembali, Laras. Kalau suatu hari di bulan Juli turun hujan dan kau masih di sini, itu artinya aku belum melupakanmu. Tapi kalau Juli datang tanpa hujan, mungkin cinta kita memang hanya sementara."

Itu adalah janji yang Rayhan tinggalkan. Sebuah kesepakatan tanpa kontrak, tapi mengikat seperti ikatan kovalen polar: kuat namun menyisakan kutub ragu.

Tahun pertama kepergian Rayhan, mereka masih saling berkabar. Tahun kedua, komunikasi mulai renggang. Tahun ketiga, Laras hanya menerima satu pesan pendek yang tak sempat ia balas. Tahun keempat, hening. Dan tahun-tahun berikutnya, Laras hanya bisa menebak: mungkin Rayhan sudah larut dalam kehidupan barunya, seperti zat yang tak bisa dikristalisasi kembali.

Meski begitu, ia tetap datang ke halte ini setiap Juli. Terkadang hujan turun deras, kadang hanya gerimis ragu, dan kadang langit benar-benar cerah, seperti menertawakan harapan Laras yang tak kunjung pudar.

Seorang lelaki tua datang, duduk di bangku ujung halte. Ia menyalakan rokok dan melirik Laras.

“Masih menunggu?” tanyanya ramah.

Laras tersenyum samar. “Ya, menunggu seseorang yang mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan orang lain.”

Lelaki itu mengangguk, seolah mengerti. “Kadang cinta itu seperti katalis. Ia mempercepat harapan, tapi tak pernah benar-benar menjadi bagian dari hasil akhir.”

Laras menatap jalanan yang tergenang air. Lalu tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di seberang. Dari dalamnya keluar seorang pria, menggendong anak kecil, disusul seorang perempuan muda dengan payung. Mereka tertawa bahagia, menyeberang sambil bergandengan tangan.

Laras terdiam. Pria itu... mirip Rayhan. Gerak tubuhnya, cara ia tertawa, bahkan bentuk rahangnya. Tapi saat pria itu mencium kening sang anak dan memeluk istrinya, Laras sadar: dia bukan miliknya lagi. Atau mungkin memang dia, tapi sudah menjadi molekul baru yang berikatan dengan unsur lain.

Laras membuka surat itu sekali lagi. Kata-kata Rayhan menyatu dengan rintik hujan dan degup hatinya.

Ia berkata dalam hati, “Kau benar, Rayhan. Kita memang tak berhasil. Tapi aku bersyukur pernah menjadi bagian dari reaksi itu. Setidaknya aku tahu bagaimana rasanya mencintai dengan sepenuh hati.”

Ia melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya kembali di dompet kecil warna biru—warna yang dulu Rayhan sukai.

Kini Laras berdiri, memandang halte yang selama ini menjadi laboratorium rindunya. Ia tidak lagi ingin menunggu. Ia ingin pulang, membiarkan cinta yang dulu pernah membara berubah menjadi kenangan yang tenang, seperti larutan yang akhirnya mencapai kesetimbangan.

Hujan masih turun. Tapi kali ini, Laras berjalan menjauh tanpa lagi menoleh.

Tamat

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post