Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

JEJAK REAKSI YANG TAK SELESAI

Jejak Reaksi yang Tak Selesai

(Seri_2 Sudut Pandang Anya)

Penulis: Sultan Chemistry

Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan kota itu, tapi langkahku hari ini justru membawaku kembali ke bangunan tua di ujung kampus. Laboratorium Kimia Organik, tempat segalanya bermula. Tempat di mana aku—dan Tria—dulu membagi waktu antara teori dan rasa, larutan dan rindu.

Tanganku gemetar ketika mendorong pintu kayu yang sedikit berderit. Aroma aseton dan alkohol teknis menyapa seperti hantu yang ramah. Rak-rak masih berdiri di tempatnya, dan meja itu... ya, meja itu... masih utuh, meski kini hanya dihuni debu dan sisa kenangan yang belum selesai.

Aku berjalan pelan ke sudut tempat dulu Tria biasa duduk. Di sanalah ia menuliskan naskah-naskah anehnya—puisi beraroma kimia, catatan reaksi yang diselingi kalimat nyeleneh seperti: "Ikatan kita ini, semoga tak terhidrolisis oleh jarak."

Aku menunduk, dan mataku terhenti pada sebuah kotak bening di rak atas. Tak ada gembok, hanya selembar kertas kecil menempel di bagian depannya:

“Senyawa Gagal. Simpan dalam suhu dingin. Kenang seperlunya.”

Dadaku bergetar. Tria masih menyimpan ini?

Kuraih kotak itu perlahan, membukanya seakan sedang membedah masa lalu. Di dalamnya ada lembar-lembar kertas penuh coretan tangan Tria. Bahkan satu-dua di antaranya kutemukan potongan tulisan tanganku—puisi kecil yang dulu kuselipkan di antara laporan praktikum.

Tanganku menyentuh salah satu halaman berjudul: “Sintesis Cinta dalam Suhu Ruang dan Tekanan Kenyataan.” Hatiku menjerit. Tria benar-benar menuliskannya. Namun tampak setengah jadi, seperti reaksinya tak pernah sempat dibiarkan berjalan hingga akhir.

Aku menutup kotak itu kembali. Rasanya seperti menutup labu destilasi sebelum uapnya menghilang seluruhnya.

Dulu, aku pergi bukan karena tak cinta. Tapi karena keluarga harus pindah mendadak ke luar negeri, dan aku tak sempat pamit dengan cara layak. Ponselku hilang saat itu, dan surat yang kutulis untuk Tria entah sampai atau tidak. Satu-satunya jejak yang tertinggal hanya puisi-puisi kecil yang kupahatkan diam-diam dalam catatan praktikum.

Aku berharap Tria tahu, bahwa walau secara kimia kami tak pernah benar-benar bersenyawa, tapi di dalam diriku, ada molekul kecil bernama Tria yang tak pernah terurai.

Aku duduk sejenak di bangku tua itu. Menatap jendela tempat angin Juli biasa masuk dan membuat kertas beterbangan. Suasana masih sama, hanya waktu yang berbeda. Di luar, langit agak mendung, dan suara dedaunan seperti percakapan yang tak pernah selesai.

Jika saat itu aku memilih tinggal, apakah kami akan berhasil menjadi senyawa stabil? Atau tetap menjadi larutan jenuh yang tak kunjung larut?

Aku tersenyum tipis, lalu menulis sesuatu di kertas kosong yang kutemukan di laci bawah meja. Tulisanku masih sama, miring sedikit, dengan tinta yang agak pudar:

“Kita tak selesai, Tria. Tapi bukan berarti tak pernah ada.”

“Terima kasih karena pernah mencoba mengikatku, bahkan saat gaya tarikmu kalah oleh gaya tolak semesta.”

Kukembalikan kertas itu ke dalam kotak. Lalu kututup perlahan.

Hari sudah sore. Aku harus pergi.

Namun kali ini, aku tak meninggalkan Tria tanpa jejak.

Sebab cinta, meski tak selalu menjadi hasil reaksi akhir,

tetap layak dikenang sebagai proses paling indah dalam perjalanan laboratorium rasa.

Butta Panrita Lopi, 20 Juli 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post