MENJAGA RASA DALAM RIDA-NYA
Judul : MENJAGA RASA DALAM RIDA-NYA
Penulis Sultan Chemistry
Genre : Prosa Naratif
Langit senja menjingga perlahan, seperti sehelai sajadah yang dibentangkan Tuhan untuk para jiwa yang mulai pulang pada sujud. Di teras masjid kecil yang tenang, seorang lelaki bernama Hilmi duduk bersandar pada tiang kayu, mengenakan gamis putih dan peci hitam yang tampak usang namun bersih. Wajahnya teduh, dengan mata yang sering menyimpan dzikir daripada dendam, dan senyumnya bukan untuk menggoda, melainkan untuk menenangkan.
Di sisi lain, datanglah seorang perempuan bernama Najwa. Ia guru tahfiz di madrasah kampung seberang, berhijab lembut warna sage yang menyatu dengan rona petang. Ia datang bukan untuk mencari, tapi menemukan hikmah dari langkah-langkah yang Allah titipkan tanpa rencana manusia.
Pertemuan mereka bermula dari sebaris salam dan diskusi ringan soal kegiatan remaja masjid. Awalnya biasa saja—layaknya pertemuan dua orang yang dipertemukan di jalan dakwah. Namun, waktu menyulam rasa, dan diam-diam, ada getar halus yang tumbuh bukan di hati, melainkan di niat.
---
Hari-hari berikutnya, Hilmi dan Najwa kerap bersua dalam kegiatan syiar. Tak pernah berduaan. Selalu dalam majelis, dalam lingkaran zikir, atau sekadar tanya jawab lewat pesan yang diselimuti adab. Hilmi bukan lelaki yang ringan melontarkan rayuan, dan Najwa bukan perempuan yang haus perhatian. Tapi keduanya, saling mendoakan.
“Aku belum mencintaimu,” tulis Hilmi suatu malam, “Tapi aku sedang belajar mengenalmu dengan cara yang diridai-Nya.”
Najwa membaca pesan itu dalam senyap. Tak ada kupu-kupu di perutnya, tapi ada getar syukur yang menyentuh qalbu. Ia tahu, cinta yang tulus bukan datang dengan kilat kata, melainkan hujan niat yang deras dalam doa.
“Jika Engkau benar jalanku,” bisik Najwa dalam sujud malam, “maka mantapkanlah langkahnya, kuatkanlah imanku. Jangan biarkan rasa tumbuh sebelum waktunya.”
---
Suatu sore, saat mengisi kajian di masjid, Hilmi berkata dalam tausiyahnya, “Mencintai dalam Islam bukan tentang memiliki, tapi menuntun—menuju surga yang sama. Maka sebelum aku genggam tangan seorang wanita, aku ingin memastikan aku bisa menuntunnya, dan ia pun mau menuntunku, bukan ke pelaminan semata, tapi ke tempat yang dijanjikan Rabb-nya.”
Najwa menunduk. Bukan malu, tapi ia sedang melindungi hatinya dari harap yang berlebihan. Ia tahu, cinta sejati bukan tentang banyaknya momen berdua, tapi tentang banyaknya doa yang dilangitkan tanpa sepengetahuan yang dicinta.
---
Mereka tak pernah saling menanyakan: “Kita ini apa?”
Karena mereka tahu, yang terpenting bukan status, tapi proses. Proses mengenal lewat Allah, bukan nafsu. Proses mencintai dengan menjaga, bukan menjajah. Dan proses menunggu dengan sabar, bukan menuntut dengan gelisah.
---
Suatu hari nanti, mungkin mereka akan saling mengucap “Aku menerimamu karena Allah,” di depan wali dan saksi. Atau mungkin tidak. Tapi mereka sudah saling mencintai, dengan cara yang paling suci: melalui sujud dan restu Ilahi.
Dan dalam benak Hilmi serta Najwa, ada satu keyakinan yang tak pernah goyah:
“Jika benar cinta ini dari-Mu, ya Allah, maka cukupkan kami dengan sabar dan istiqamah dalam proses. Jangan biarkan hati ini condong pada manusia sebelum Engkau meridai kami saling memiliki.”
---
Itulah cinta yang masih dalam proses kenal. Belum penuh, tapi sudah tulus. Belum nyata, tapi telah menguatkan iman. Sebab cinta sejati tak perlu tergesa. Ia adalah sebaik-baiknya penantian yang dimulai dengan niat dan disempurnakan dengan taat.
Akhir dari kisah ini bukan di pelaminan, tapi di surga yang sama—jika Allah berkenan.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
