TAMAN DI BALIK LUKA
Judul : TAMAN DI BALIK LUKA
Penulis : Sultan Chemistry
Genre : Prosa Naratif
Pada suatu senja yang menggigil dalam pelukan angin Juli, seorang perempuan duduk di bawah pohon kenangan. Rambutnya tergerai seperti luka yang tak sempat disisir takdir. Matanya—dua kolam rindu yang nyaris tumpah—menatap cakrawala, seolah mencari serpihan harapan yang disembunyikan waktu.
Namanya Laras. Gadis itu pernah menari di panggung kehidupan, dipuji musim dan dimanja hari. Tapi kini, ia belajar diam. Belajar menatap hidup yang seringkali mencoret pelangi sebelum sempat ia warnai. Di dadanya, berkecamuk ribuan tanya: mengapa dunia kadang begitu tega?
Namun, angin tak pernah tinggal diam terhadap mereka yang bersedih. Ia mengirim seutas bisik lewat daun-daun yang menari di pelupuk bumi:
“Jangan pernah bersedih, wahai hati yang lelah.
Karena duka hanyalah malam yang akan dilintasi pagi.
Air mata bukan musuh,
Ia hanya bahasa sunyi dari langit yang ingin kau pahami.”
Laras lalu berdiri. Langkahnya gontai, tapi masih ada tekad tersisa di sudut pijaknya. Ia menyusuri jalan setapak yang pernah menjadi saksi jatuh-bangunnya semangat. Di sana, di antara rerumputan dan suara jangkrik, ia teringat nasihat Ibunya—seorang perempuan tua yang hatinya setangguh karang.
"Nak, jika dunia membuatmu bersedih, jangan lekas menyalahkan langit.
Kadang, Tuhan sedang menyiapkan taman bunga di balik reruntuhan.
Bersedihlah seperlunya,
Lalu bangkitlah sepenuhnya."
Sejak saat itu, Laras mengubah air matanya menjadi tinta. Ia menulis puisi di balik luka, ia menyulam harapan dari benang-benang kecewa. Dan setiap kali mendung menggantung, ia tersenyum lirih, sebab ia tahu: badai datang bukan untuk tinggal, melainkan untuk menyapukan debu dan menguatkan akar.
Waktu berjalan. Musim silih berganti seperti bait puisi yang dirapalkan semesta. Laras kini menjadi guru bagi mereka yang kehilangan semangat. Ia mengajarkan satu kalimat sakti yang dulu menyelamatkannya:
"Jangan pernah bersedih, karena langit takkan selamanya mendung, dan hati tak akan selamanya kelam. Dalam luka, Tuhan menyembunyikan pelajaran paling indah."
Dan di ujung goresan ini, barangkali kita semua pernah merasakan rasa Laras—yang pernah terjatuh, pernah patah, tapi memilih bangkit dengan segenap cinta yang tersisa. Sebab hidup, sebagaimana puisi, harus terus dibaca… meski dengan suara yang bergetar.
Bumi Allah, 30 Juli 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
