KETULUSAN IBU DI JALAN SUNYI
Ketulusan Ibu di Jalan Sunyi
Penulis Muhammad Sultan
Di sebuah desa yang jauh dari riuh kota,
tinggal seorang ibu tua dengan rambutnya
yang telah berubah putih,
seperti kapas yang menyimpan rahasia langit.
Setiap pagi, ia bangun sebelum ayam jantan berkokok.
Tangannya yang rapuh menggenggam cangkul,
membelah tanah dengan sabar,
meski tubuhnya sering bergetar menahan letih.
Ia menanam padi bukan untuk dirinya,
melainkan untuk anak-anaknya
yang pergi merantau mengejar mimpi.
Ia tidak pernah menuntut pulang,
tidak pernah meminta kabar.
Hanya diam-diam menyalakan doa
di sudut sajadah yang basah oleh air mata.
Ketulusan baginya adalah menunggu
tanpa menghitung waktu,
adalah tersenyum meski hatinya sepi,
adalah merelakan tubuhnya dipahat usia
demi melihat senyum anak-anaknya di kejauhan.
Suatu senja, seorang anak pulang
dengan wajah lelah membawa cerita dunia.
Di tangan anak itu ada hadiah,
tapi ibu hanya tersenyum dan berkata lirih:
“Hadiah terindah bagiku bukan emas atau kain mahal,
tapi saat melihatmu pulang,
membawa sehat dan selamat.”
Air mata pun jatuh tanpa disadari,
bukan karena harta yang ia rindukan,
tapi karena cintanya berbuah nyata.
Ketulusan akhirnya bukanlah kata-kata,
bukan pula balasan yang ditunggu,
melainkan sepi yang rela dipeluk,
rindu yang ikhlas ditanam,
serta cinta yang terus mengalir
meski tak pernah disebut namanya.
Bulukumba, 250825
---
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan