Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

KETULUSAN YANG INDAH

Ketulusan yang Indah 

 

Di sebuah desa yang dikelilingi hamparan padi hijau, tinggal seorang pemuda bernama Raka. Hidupnya sederhana, bajunya sering kusut, sandal yang ia pakai sudah aus, dan ia hanya mengayuh sepeda tua ke mana pun pergi. Namun di balik kesederhanaannya, Raka menyimpan satu hal yang jarang dimiliki orang: ketulusan yang murni.

 

Di sisi lain, ada Arman—pemuda tampan dengan senyum yang licin dan tutur kata yang manis. Ia gemar berpenampilan rapi, memakai parfum wangi, dan pandai mengambil hati banyak orang dengan pujian yang terdengar indah, meski sering kali tanpa makna. Orang-orang di kampung menyebutnya “bintang pesta” karena selalu tahu cara mencuri perhatian.

 

Keduanya sama-sama menaruh hati pada seorang gadis bernama Laras. Laras adalah bunga desa, lembut dalam tutur kata, anggun dalam sikap, dan cerdas dalam berpikir. Tidak ada pemuda yang tak menoleh saat ia melintas.

 

Arman sering datang ke rumah Laras membawa hadiah: bunga, cokelat, atau sekadar buku dengan pita cantik. Katanya, semua itu tanda cinta. Namun, yang ia ucapkan manis di bibir, sering kali berbeda dengan gerak hatinya. Hadiah hanyalah topeng, kepura-puraan yang dibungkus agar tampak indah.

 

Sementara itu, Raka hanya datang dengan seulas senyum dan bantuan nyata. Ia menolong ayah Laras memperbaiki pompa air di sawah, mengantar adik Laras ke sekolah saat hujan deras, atau sekadar membantu ibu Laras menimba air. Ia tidak membawa bunga atau cokelat, tapi ia membawa keikhlasan.

 

Laras sempat ragu. Hatinya bimbang, karena kepura-puraan sering tampak lebih indah daripada ketulusan yang sederhana. Namun waktu, seperti selalu, menyingkap tabir yang tersembunyi.

 

Suatu sore, ketika senja menggantungkan warna jingga di langit, Laras jatuh sakit. Arman datang dengan setangkai mawar mahal, meletakkannya di meja, lalu buru-buru pergi dengan alasan ada acara penting. Sedangkan Raka, dengan sabar duduk di sisi rumah, menunggui Laras semalaman. Ia tidak membawa apa-apa kecuali segelas air putih yang ia jaga agar tetap hangat untuk Laras.

 

Malam itu, Laras terbangun dan melihat Raka tertidur di kursi bambu, kepalanya tertunduk, wajahnya lelah, namun tangannya masih menggenggam gelas berisi air. Seketika, matanya basah. Saat itu ia sadar—bunga akan layu, cokelat akan habis, tapi ketulusan tidak pernah pudar.

 

Hari-hari berlalu, dan kabar pun menyebar. Orang-orang mulai melihat siapa yang benar-benar tulus, siapa yang hanya berpura-pura. Kepura-puraan Arman runtuh, sementara ketulusan Raka kian bersinar.

 

Dan pada suatu pagi, di hadapan keluarga dan sahabat, Laras berkata pelan namun mantap,

“Hatiku memilih bukan yang paling indah di mata, tapi yang paling jujur di jiwa. Maka aku memilih Raka.”

 

Arman hanya bisa terdiam, wajahnya kehilangan cahaya. Sebab ia tahu, segala topeng tidak akan selamanya mampu menutupi wajah asli.

 

Sementara itu, Raka menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tak pernah bermimpi untuk menang, karena baginya cinta adalah memberi, bukan memiliki. Namun kali itu, ketulusannya membawanya pada bahagia yang nyata.

 

Dan senja hari itu, desa kecil itu belajar satu hal: Ketulusan mungkin berjalan pelan, tapi ia selalu sampai. Sedang kepura-puraan, secepat apa pun ia berlari, akhirnya akan tersandung oleh dirinya sendiri.

 

Bulukumba, 250825

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post