BAB 2
Bab 2
Aku di Pihak yang Selalu Keliru.
Siang di UGM selalu gaduh oleh langkah-langkah tergesa. Has berdiri di selasar Fakultas Teknik, menunggu kelas berikutnya dengan dada yang terasa sesak. Di tangannya ada buku catatan penuh coretan rumus, tetapi pikirannya tertinggal di bangku taman pagi tadi—di kata-kata Ayuri yang belum juga selesai menyakitinya.
Ia bukan tak terbiasa disalahkan. Sejak kecil, Has belajar bahwa diam adalah jalan paling aman. Di rumah, di pertemanan, dan kini, di cinta. Namun bersama Ayuri, kesalahan itu terasa memiliki wajah, suara, dan alasan yang selalu tampak masuk akal.
Sore itu mereka bertemu kembali di kantin Bonbin, tempat mahasiswa dari berbagai fakultas melebur dalam antrean dan tawa. Ayuri datang bersama dua temannya. Has berdiri, menyingkirkan kursi.
“Kamu mau duduk?” tanya Has.
Ayuri menatapnya singkat. “Nanti aja. Aku lagi diskusi.”
Has mengangguk. Ia duduk kembali, menunggu tanpa tahu apa yang ia tunggu. Ketika Ayuri akhirnya mendekat, wajahnya serius, matanya menyimpan keberatan yang belum selesai.
“Kamu tahu nggak,” kata Ayuri pelan tapi tegas, “kadang aku ngerasa kamu tuh nggak satu frekuensi sama aku.”
Has menelan ludah. “Maksudmu?”
“Aku butuh orang yang cepat paham. Yang nggak harus dijelasin berulang kali. Ini UGM, Has. Kita dituntut berpikir.”
Kalimat itu seperti garis batas. Has tahu, ia sedang dibandingkan—bukan secara terang-terangan, tapi cukup untuk membuatnya merasa tertinggal. Ia ingin berkata bahwa berpikir tak selalu tentang kecepatan, bahwa ada orang-orang yang memahami dunia dengan cara lebih pelan namun lebih dalam. Tapi lidahnya kelu.
“Maaf kalau aku bikin kamu kecewa,” katanya lagi.
Ayuri menghela napas. “Kamu selalu bilang maaf, tapi nggak berubah.”
Padahal Has telah berubah berkali-kali. Ia mengatur waktunya agar sesuai dengan jadwal Ayuri, menunda kegiatannya sendiri, belajar memahami buku-buku yang disukai Ayuri meski asing baginya. Ia berusaha menjadi versi dirinya yang lebih bisa diterima. Namun semua itu seperti catatan kecil yang tak pernah masuk daftar penilaian.
“Menurutmu, aku salah di mana?” tanya Has akhirnya, memberanikan diri.
Ayuri terdiam sesaat, lalu berkata, “Di banyak hal.”
Jawaban itu menghantam lebih keras daripada tuduhan mana pun. Banyak hal berarti semuanya. Berarti Has, secara utuh, adalah masalah.
Di meja seberang, tawa teman-teman Ayuri pecah. Has memandang wajah Ayuri yang tetap tenang, seolah percakapan ini hanya selingan kecil sebelum kembali pada dunia yang lebih penting.
Saat Ayuri pamit pergi ke perpustakaan fakultasnya, Has tertinggal dengan segelas teh dingin yang tak sempat ia minum. Esnya mencair, seperti pertahanannya.
Di kampus yang menjunjung tinggi nalar dan prestasi, Has mulai menyadari satu kenyataan getir:
bukan kecerdasannya yang dipersoalkan, melainkan keberaniannya untuk berbeda.
Dan setiap kali ia mencoba menjadi dirinya sendiri, ia kembali ditempatkan di sudut yang sama—sudut orang yang keliru.
Has menatap langit senja UGM yang memerah, bertanya pada dirinya sendiri:
apakah cinta memang mengharuskan seseorang selalu kalah agar yang lain merasa benar?
Pertanyaan itu tak dijawab hari itu. Ia hanya dibawa pulang, disimpan dalam dada, menunggu luka berikutnya untuk menyempurnakan rasa.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Ikuti terus kisahnya!
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan