H
HATI YANG TERLUKA
Telah kusimpan sunyi ini dalam dada,
seperti reaksi endoterm yang tak kunjung reda;
dan malam hanya menjadi saksi,
bahwa air mata tak selalu memerlukan suara.
Aku pernah mencinta sedalam laut,
serupa ikatan kovalen yang kukira tak terputus;
namun waktu membawanya pergi,
menyisakan jejak yang kutapaki sendiri.
Kini sepi mengajariku diam,
tentang kesetimbangan antara berharap dan melepas;
bahwa hati yang memaksa memiliki
tak pernah benar-benar merdeka.
Namun ya Rabbi—
Engkaulah katalis paling lembut bagi luka;
Engkau tak bertanya siapa yang pergi,
Engkau hanya memeluk yang kembali.
Maka kini aku memilih pasrah,
karena hidup bukan untuk menahan—
seperti buffer menjaga ketabahan jiwa,
aku belajar percaya pada rencana-Mu.
Bulukumba, 091225
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
