LAUT TANPA PETA
LAUT TANPA PETA
Penulis : Muhammad Sultan
Aku belajar diam dari hutan bakau:
akar-akar yang memeluk lumpur
tetap menahan gelombang
meski tak pernah disapa.
Di balik desah angin pesisir
ombak berulang melagukan rahasia;
di setiap buihnya
kutemukan serpih namamu
yang tak sempat kuucapkan.
Kadang rindu menyerupai pasang:
datang tiba-tiba,
menggerus segala pertahanan,
lalu surut tanpa janji—
namun meninggalkan garis asin
di tepi dada.
Jika takdir adalah samudra
yang tak memberi peta,
biarlah cintaku jadi perahu kecil:
mengikuti arus doa,
menyala hanya dengan keyakinan,
meski pelabuhanmu
bukan lagi aku.
Butta Panrita Lopi, 181225
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan