SUNGAI YANG TINGGAL NAMA
SUNGAI YANG TINGGAL NAMA
Penulis: Muha Sultan
Genre: Pentigraf
Pagi itu Pak Has berdiri di tepi sungai yang mengalir pelan, seolah lelah menempuh jarak yang tak lagi ia pahami. Airnya keruh, memantulkan langit tanpa warna, namun belum sepenuhnya kehilangan denyut. Angin membawa aroma logam yang tidak sedap dan membuat ingatannya beringsut ke masa kecil, ketika sungai adalah halaman bermain, tempat tawa anak-anak bercampur riak air dan ikan melesat seperti doa yang sederhana.
Di dadanya, konflik batin berdenyut tanpa suara. Ia marah pada para penjarah yang rakus, namun lebih marah pada dirinya sendiri. Pernah ia menjual sebidang hutan demi biaya sekolah anaknya. Pak Has mencoba meyakinkan hati bahwa itu pengorbanan, bukan pengkhianatan. Tetapi rasa bersalah selalu saja hadir. Sejak itu, nuraninya sering terbangun lebih dahulu daripada fajar.
Bertahun kemudian, saat pagi hadir menyapa, Pak Has menanami satu hektar lahan gundul di sepanjang sungai itu dengan bibit-bibit yang ia beli dari tabungannya sendiri. Ia bekerja dalam diam, tanpa spanduk, tanpa laporan. Sungai tetap keruh, tanah masih luka, dan ia tahu pemulihan tak pernah singkat. Namun malam itu, sebuah pesan datang: namanya tercantum sebagai tokoh kunci keberhasilan reklamasi sungai—sementara hektar yang ia tanami telah lebih dulu dipetakan sebagai bagian proyek pihak lain. Anehnya, dana dari program itu tidak diberikan padanya.
Kajang, 26 Desember 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan