SINGGASANA KENANG
Judul: SINGGASANA KENANG
Penulis Sultan Chemistry
Isi
Pernah kita teguk bahagia
dari piala cahaya senja,
disorakkan angin,
diberkati desir dedaunan muda.
Getir belum bernama luka,
ia hanya madu yang terlambat pahitnya.
Kita rayakan janji
dengan mata yang belum tahu uzur,
dengan dada yang belum pandai retak,
segala kata terasa abadi
sebab waktu masih bersujud pada kita.
Namun hari berjalan tanpa salam,
meninggalkan jejak debu di tapak doa.
Yang manis luruh perlahan,
menjadi rasa yang tak sempat kita tangisi
saat tawa masih menutup telinga nurani.
Kini getir itu duduk sendiri
di singgasana kenang,
bukan sebagai dendam,
melainkan zikir panjang
atas cinta yang pernah suci niatnya.
Aku tak mencela perayaan itu—
sebab tanpanya,
aku takkan tahu
bahwa bahagia pun bisa wafat
dan pahit pun pernah kita panggil
dengan nama: harapan.
Bulukumba, 11 Februari 2026
Ikutan ya Kak
Elgard Jsumandjaya
Teman
Siera putri
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan