Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

CINTA YANG TUMBUH DI ANTARA KATA DAN LUKA

Cinta yang Tumbuh di Antara Kata dan Luka

Di kota budaya Yogyakarta, di negeri Indonesia, hidup seorang dokter perempuan bernama Dr. Ayu Rahman. Ia adalah seorang ahli penyakit dalam di sebuah rumah sakit besar di kota itu.

Dr. Ayu dikenal cerdas dan tenang. Banyak pasien merasa nyaman ketika ditangani olehnya. Suaranya lembut, sikapnya sabar, dan matanya selalu memancarkan ketulusan.

Kariernya cemerlang.

Namun hidupnya sering terasa sepi.

Hari-harinya dipenuhi ruang periksa, aroma obat, dan berkas rekam medis.

Sementara di sudut lain kota itu, hidup seorang pemuda bernama Arga Pratama. Ia bukan orang terkenal. Ia hanyalah penyair yang baru bertumbuh, yang menulis puisi di buku kecil yang selalu ia bawa ke mana pun.

Arga bekerja di sebuah toko buku kecil dekat kampus. Gajinya tidak besar, tetapi ia bahagia karena dikelilingi buku dan kata-kata.

Setiap malam ia menulis puisi.

Tentang hujan.

Tentang kesunyian.

Tentang mimpi yang belum menemukan jalan pulang.

Suatu hari Arga jatuh sakit. Demamnya tinggi dan tubuhnya sangat lemah. Temannya membawanya ke rumah sakit tempat Dr. Ayu bekerja.

Di ruang periksa itulah mereka pertama kali bertemu.

Dr. Ayu memeriksa Arga dengan serius.

“Sepertinya kamu terlalu sering begadang,” katanya sambil melihat hasil pemeriksaan.

Arga tersenyum lemah.

“Begadang bukan untuk hal buruk, Dok. Saya menulis puisi.”

Dr. Ayu sedikit terkejut.

“Puisi?”

Arga mengangguk.

“Kadang kalau tidak menulis, hati terasa seperti langit yang menahan hujan.”

Kalimat itu membuat Dr. Ayu diam sejenak.

Ia jarang sekali mendengar pasien berbicara dengan bahasa seperti itu.

Beberapa hari kemudian Arga harus kembali kontrol.

Setiap kali datang, ia selalu membawa buku kecilnya.

Suatu hari Dr. Ayu bertanya dengan rasa penasaran,

“Boleh saya membaca salah satu puisimu?”

Arga ragu-ragu, tetapi akhirnya menyerahkan bukunya.

Di dalamnya tertulis puisi sederhana:

“Jika tubuh adalah rumah bagi jiwa,

maka kata adalah jendela kecilnya.

Melalui jendela itu,

aku belajar melihat dunia tanpa takut.”

Dr. Ayu membaca dengan perlahan.

Entah mengapa hatinya terasa hangat.

Ia yang setiap hari bergelut dengan penyakit dan penderitaan manusia, tiba-tiba menemukan sesuatu yang jarang ia rasakan:

keindahan yang lahir dari kesederhanaan.

Sejak saat itu mereka mulai sering berbincang.

Arga bercerita tentang mimpinya menjadi penyair.

Dr. Ayu bercerita tentang perjuangannya menjadi dokter.

Dua dunia yang sangat berbeda itu perlahan saling mendekat.

Namun tidak semua orang mengerti hubungan mereka.

Beberapa teman dokter Dr. Ayu berkata,

“Kenapa kamu dekat dengan penyair yang belum jelas masa depannya?”

Dr. Ayu hanya tersenyum.

Ia tahu satu hal yang orang lain tidak lihat.

Arga mungkin belum terkenal.

Puisinya mungkin belum banyak dibaca.

Namun setiap kata yang ia tulis selalu jujur.

Suatu malam Arga mengundang Dr. Ayu ke sebuah acara kecil pembacaan puisi di sebuah kafe sederhana di Yogyakarta.

Lampu temaram.

Beberapa kursi kayu.

Dan panggung kecil.

Ketika tiba gilirannya membaca puisi, Arga berdiri dengan gugup.

Lalu ia membaca puisi yang baru ia tulis:

“Aku pernah bertemu seseorang

yang setiap hari melawan penyakit manusia.

Tangannya menyembuhkan tubuh,

namun senyumnya menyembuhkan jiwa.

Jika suatu hari puisiku tumbuh menjadi pohon,

aku ingin menulis namanya

di akar yang paling dalam.”

Semua orang bertepuk tangan.

Namun Dr. Ayu yang duduk di sudut ruangan hanya terdiam.

Matanya berkaca-kaca.

Ia baru menyadari bahwa puisi itu ditulis untuknya.

Beberapa tahun kemudian, Arga mulai dikenal sebagai penyair. Buku puisinya perlahan dibaca banyak orang.

Namun bagi Arga, keberhasilan itu bukan hal terpenting.

Suatu malam ia berkata kepada Dr. Ayu,

“Jika aku tidak pernah bertemu kamu, mungkin puisiku hanya akan menjadi kata-kata tanpa arah.”

Dr. Ayu tersenyum lembut dan menjawab,

“Dan jika aku tidak pernah bertemu kamu, mungkin hidupku hanya akan menjadi jadwal dan diagnosis.”

Mereka akhirnya menikah sederhana.

Tidak ada pesta besar.

Hanya keluarga, sahabat, dan buku puisi yang Arga hadiahkan pada Dr. Ayu di hari pernikahan mereka.

Di halaman pertama buku itu tertulis:

"Aku mungkin belajar menyembuhkan luka lewat kata,

tetapi kamu mengajarkanku bahwa cinta adalah obat yang paling sunyi namun paling kuat di dunia."

Dan sejak hari itu, di kota Yogyakarta, orang-orang mengenal kisah mereka:

Tentang seorang dokter yang menyembuhkan tubuh manusia,

dan seorang penyair yang menyembuhkan hati manusia—

yang akhirnya menemukan bahwa cinta adalah puisi paling indah yang pernah mereka tulis bersama. ❤️

#KisahCinta

#DokterDanPenyair

#CintaSejati

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post