MUDIK KE HATIMU
MUDIK KE HATIMU
Penulis: Sultan Chemistry
Malam turun pelan di kota ini.
Lampu-lampu jalan berdiri seperti saksi.
Orang-orang bergegas pulang.
Bus penuh.
Motor berderet.
Suara klakson bersahutan seperti doa yang terburu-buru.
Aku berjalan di antara mereka,
sendiri.
Dan anehnya,
setiap kali aku mengingat namamu
dadaku terasa seperti tabung kaca
yang tiba-tiba dipenuhi reaksi.
Terminal itu riuh.
Anak kecil menangis.
Pedagang memanggil pembeli.
Seorang ibu memeluk anaknya terlalu lama.
Semua orang membawa sesuatu untuk rumah.
Kue.
Baju baru.
Cerita panjang dari kota.
Aku tidak membawa apa-apa.
Kecuali rindu
yang diam-diam mengeras di dadaku
seperti kenangan
yang mengkristal.
Aku tidak tahu
apakah hatimu masih mengingatku.
Waktu sering mengubah manusia.
Seperti hujan mengubah tanah
menjadi lumpur
atau bunga.
Tetapi di dalam diriku
namamu masih tinggal tenang
seperti molekul
yang setia berpegangan
dalam air kehidupan.
Jika suatu hari
langkah kakiku benar-benar sampai
di halaman hatimu
Aku hanya akan mengetuk pelan.
Sebab cinta kadang tidak perlu suara besar.
Tidak perlu janji yang berkilau.
Cukup satu hal kecil—
sebuah katalis
yang membuat dua hati
yang lama berjarak
tiba-tiba
bereaksi kembali.
Bulukumba, 15 Maret 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan