Muhammad Sultan, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

GURU YANG MEMELUK LUKA

GURU YANG MEMELUK LUKA

Karya: Sultan Chemistry

Pagi itu pecah—

bukan oleh cahaya,

melainkan oleh kata

yang dilontarkan tanpa nurani.

Di ruang sempit bernama kelas,

kapur tergenggam seperti saksi bisu,

papan tulis menganga—

belum sempat ditulisi harapan,

sudah dipenuhi gema luka yang tak kasat mata.

Bu Atun,

berdiri di antara denting kursi dan tatap yang mengeras,

namanya dipanggil—

bukan sebagai hormat,

melainkan seperti pisau yang diasah di atas lidah.

Dan kata-kata itu…

jatuh.

Bukan jatuh seperti hujan—

melainkan runtuh seperti kaca yang disengaja pecah,

menyusup ke dalam dada,

mencari tempat paling sunyi untuk melukai.

Waktu tersedak.

Jam dinding kehilangan detaknya.

Udara menggantung di tenggorokan kelas—

menunggu satu hal:

ledakan.

Namun tidak—

Bu Atun menolak menjadi api.

Ia memilih menjadi reaksi sunyi,

di mana luka tidak dibalas,

melainkan dilarutkan perlahan

dalam pelarut bernama sabar.

Asam perih itu menggelegak—

tapi ia tambahkan basa keikhlasan,

hingga netral,

hingga hening,

hingga tak lagi membakar.

“Tidak apa-apa…”

suaranya lirih,

namun mengguncang lebih dari teriakan.

“Anak yang nakal…

tidak selamanya akan tinggal dalam kenakalannya.”

Kalimat itu—

bukan sekadar udara bergetar,

ia adalah katalis:

mempercepat keruntuhan ego,

tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Dan sesuatu runtuh hari itu.

Bukan guru itu—

melainkan kesombongan yang sempat tumbuh

di dada seorang murid

yang terlalu muda untuk memahami luka.

Ia menunduk.

Tangisnya pecah—

bukan karena takut,

melainkan karena untuk pertama kalinya

ia disentuh oleh sesuatu yang lebih tajam dari hukuman:

maaf.

Hari itu, rumus berubah makna.

Angka kehilangan kuasanya.

Dan papan tulis yang bisu itu

akhirnya menuliskan pelajaran paling purba:

bahwa menjadi manusia

adalah tentang menahan reaksi,

ketika dunia menuntutmu meledak.

Bu Atun tidak menangis di depan mereka.

Ia hanya menyimpan retakan itu

di tempat paling dalam—

tempat di mana guru-guru besar

mengubur luka mereka

agar murid-muridnya bisa tumbuh tanpa bayang.

Dan dari sana kita belajar—

bahwa hati seorang guru

bukan sekadar ruang,

melainkan semesta luas

di mana kesalahan tidak dihukum,

tetapi dipulangkan.

Bumi Allah, 24 April 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post