Membeli Beras
Saat akhir bulan sudah menjadi hal wajar jika kondisi keuangan mulai menipis. Begitu halnya Adi. Ia pun mengalami hal yang sama. Uang di dompetnya tinggal seratus ribu rupiah. Berharap yang selembar itu bisa hemat sampai seminggu kedepan sebelum gajian bulan depan. Adi harus berpikir keras bagaimana bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya dengan kondisi keuangan yang menipis.
Adi memutar otak bagaimana caranya dengan uang tersebut bisa cukup seminggu. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli beras. Mengapa beras? Pikirnya jika beras ada, masalah lauk pauk bisa disiasati. Seandainya ada beras, bisa memasak nasi. Kemudian nasi hangat bisa di makan hanya dengan garam saja itu sudah enak. Selama ini walau Adi bekerja, tetapi gaji bulanannya masih jauh dari UMR. Pikirnya tidak masalah sambil menunggu pekerjaan yang gajinya jauh lebih besar.
Selama ini Adi hidup mengontrak seorang diri. Hidup mandiri itu tidaklah mudah. Harus memiliki manajemen keuangan yang baik. Anggap saja hal itu sebagai cara berlatih sebelum berumah tangga nantinya. Dengan sisa uangnya tersebut berangkatlah Adi menggunakan sepeda motornya. Sesampainya di warung kelontong dibelikan beras seharga uang yang dimiliki. Saat akan membayar ternyata uang di kantong Adi tidak ada. Sepertinya ia tidak menyadari uangnya terjatuh. Ya Allah alamat puasa seminggu nih. Gumam Adi di hatinya.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
