Mendadak Tes Antigen
Alhamdulillah Allah SWT berikan kepercayaan kembali untuk memiliki buah hati. Sebelumnya saya telah dikaruniai 3 putri dengan usia si sulung 15 tahun kelas VIII MTs, dan kedua adiknya kelas V dan IV MI. Putri ke tiga sudah berusia 10 tahun. Mereka akhirnya memiliki adik laki-laki melalui persalinan normal sama dengan ketiga kakaknya.
Saat menjelang kelahiran, di rumah kami sekitar pukul 23.00 WIB istri mengalami pecah ketuban sehingga saya bergegas membawanya ke rumah sakit tempat yang biasa memeriksakan kehamilan. Setelah sampai, istri langsung masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Saya mengurus berkas pendaftarannya.
Kemudian saya dipanggil untuk ke ruang IGD. Dokter di IGD menayakan perihal sudah tes covid-19 atau belum? Jawab saya sudah, kemudian menunjukkan buktinya dengan hasil negatif. Ucap petugas medis sudah tidak berlaku. Karena batas hasil tesnya hanya berlaku 3 hari. Waduh bukannya 14 hari? Setelah berdebat akhirnya saya menyerah, saya ingin istri saya segera ditangani, silahkan tes covid kembali.
Saya kemudian mengurus ke bagian pendaftaran tes covid pilihannya ada 3 yaitu rapid tes PCR, antigen, dan antibody. Pihak RS merekomendasikan PCR atau Antigen. Saya bertanya perihal biaya. Harga rapid tes untuk PCR sekitar 900 ribuan sedangkan Antigen sekitar 225 ribuan. Saya akhirnya memiliki Antigen karena lebih murah dan BPJS saya yang kelas 1 saja tidak mengcover biaya rapid tes tersebut. Setelah istri melakukan tes antigen. Alhamdulillah negatif covid-19 sehingga dapat segera ditangani.
Lalu bagian pendaftaran di RS bertanya, pasien siapa yang akan mendampingi? Saya jawab, saya suaminya yang akan mendampingi. Kalau begitu bapak harus di rapid tes antigen juga. Saya berikan penjelasan bahwa istri saya sudah negatif, saya suaminya pasti negatif juga. Tetap pak harus sesuai prosedur, jika bapak mau mendampingi harus tetap di tes.
Akhirnya untuk istri tercinta dan calon buah hati, akhirnya saya mendadak rapid tes antigen. Saya kemudian ke lab diminta duduk disebuah kursi yang tersedia sepertinya untuk tes covid tersebut. Kemudian datang petugas lab dengan membawa alat ditangan yang siap untuk dimasukan ke lubang hidung kiri dan kanan. Dimasukan begitu dalam sambil diputar-putar untuk mendapatkan cairannya diindikasikan virus bersemayam di sana. Tunggu 20 menit dan saya pun hasilnya negatif.
Ada ganjalan di hati. Tes covid itu tidak di cover BPJS, lalu jika sedang kondisi ekonomi sulit seperti sekarang, apabila seseorang akan ke rumah sakit kemudian harus tes covid, tetapi sedang tidak ada uang harus membayar pakai apa? Apakah pasien tidak dilayani. Sungguh ironis.
Sejatinya tes covid idealnya hanya dilakukan kepada orang yang berinteraksi dengan pasien positif covid sehingga tes bisa lebih efektif. Bukan semua orang harus di tes dan berbayar. Saya sepakat bahwa covid itu berbahaya tetapi yang membuat saya tidak setuju adalah adanya indikasi komersialisasi medis mengatasnamakan covid. Tentunya hal itu harus dibuktikan kebenarannya.
Asumsi saya ada yang memanfaatkan kondisi pandemi ini untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompok. Mudah-mudahan saya keliru. Semoga saja jika itu memang benar terjadi, dapat segera di cari solusinya. Menemukan alat tes covid-19 yang lebih murah meriah dan efektif. Apabila memungkinkan digratiskan jauh lebih baik mengatasnamakan rakyat. Kemudian rakyat bisa mendapatkan perioritas medis pada masa pandemi secara gratis.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
