Budaya Asal Copas dan Share
Tidak bisa dipungkiri zaman now media sosial menjadi media komunikasi yang banyak digunakan. Bahkan flatform media sosial yang paling familiar menjadi acuan dalam berbagi informasi seperti YouTube, Instagram, Facebook, Twitter, dan WhatsApp. Pada flatform tersebut memberikan fasilitas berbagi apakah dokumen, video, gambar, foto, animasi, dan status. Lalu kemudian di share dan muncul budaya copy paste (copas).
Sejatinya setiap orang telah Allah SWT berikan kesempurnaan otaknya. Berbagai penelitian membuktikannya. Ada penelitian yang menyatakan bahwa manusia itu memiliki multiple intelegensi yang disebut kecerdasan majemuk. Teori ini pertama kali disampaikan oleh Howard Gardner, profesor dan psikolog dari Universitas Harvard, dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences.
Manusia itu memiliki banyak kecerdasan tinggal dioptimalkan saja menggunakan otaknya untuk memantik tergalinya kecerdasan tersebut. Sehingga jika setiap orang aktif di media sosial dengan kecerdasan yang dimilikinya akan dahsyat hasilnya. Akan tetapi kesemua keberhasilan hidup berawal dari diri sendiri. Apakah secara pribadi ada keinginan untuk memunculkan buah dari kecerdasan tersebut atau melakukan budaya instan yaitu asal share atau copas.
Budaya ini parahnya tidak dibarengi dengan literasi membaca. Saat ada informasi di media sosial lalu dengan mudahnya copas lalu di share ke berbagai media sosial dimana yang bersangkutan sebagai anggota grupnya. Baiknya membuat sendiri sehingga isinya bisa dipertanggungjawabkan oleh si pembuat. Walaupun sederhana tetapi itu karya sendiri jauh lebih baik dibandingkan share atau copas karya orang lain.
Semisal menjelang Ramadan. Berbagai informasi ucapan menjelang puasa di media sosial bertebaran. Saat dibaca ternyata banyak informasi yang sama. Jika di WA ada tanda panah di atas pesan yang menunjukkan dibagikan. Bahkan ada informasi jika sudah dibagikan berkali-kali. Pernah saya lakukan konfirmasi kepada pengirim, karena kiriman ternyata isinya tidak sesuai dengan penjelasan awal. Itu membuktikan rendahnya literasi membaca sebelum berbagi.
Baiknya manfaatkan media sosial secara efektif. Jika akan berbagi informasi di media sosial seperti menjelang suatu moment tertentu bisa membuat sendiri hal apa yang akan dibagikan. Hindari budaya copas lalu share. Jika memang akan digunakan etikanya sebutkan sumbernya. Sehingga jika ada kekeliruan informasi itu bukan dari kita tetapi dari sumber tulisan yang dikutip.
Zaman now semuanya tetap ada aturannya. Ada tata etikanya. Pantas atau tidaknya. Tepat atau tidaknya. Waspadalah jangan sampai karena jari, seseorang bisa penjara karena telah ada undang-undangnya yaitu UU ITE.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
