Ketulusan Cinta
Saat bersekolah di madrasah. Siti dan Adi belum memiliki rasa. Mereka berdua hanya teman sekelas. Mereka sering belajar bersama kadang belajar kelompok. Saat menjelang lulus keduanya di terima di perguruan tinggi melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) berdasarkan jalur undangan penelusuran akademik dan bakat di kampus negeri. Neng kuliah di Lampung sedangkan Adi di Jakarta.
Setelah berbilang tahun mereka berdua lulus sebagai sarjana. Mereka kembali ke Tangerang, Banten. Kemudian mereka berdua dipertemukan kembali. Benih-benih cinta hadir diantara mereka. Berbekal saling mengenal saat di madrasah dan merasa cocok satu sama lain. Pertemuan antar keluarga dilakukan kemudian disepakati waktu pelaksanaan akad nikah dan resepsi pernikahan. Undangan pun sudah disebar.
Saat sedang menunggu hari bahagia Adi sakit. Badannya lemas dan pucat. Saat diperiksa secara medis ternyata menderita leukimia (kanker darah). Dengan berat hati Adi menyampaikan tentang sakitnya ke Neng. Ia mempersilahkan Neng untuk mengakhiri hubungan supaya bisa hidup dengan cinta yang lain. Diluar dugaan Neng mau menerima keadaan Adi. Ia tetap bersedia melangsungkan acara akad nikah dan resepsi sesuai rencana. Dua mingguan menjelang acara Adi masuk rumah sakit. Saat hari pelaksanakan memaksakan diri mengucapkan janji suci dan resepsi. Semua yang hadir meneteskan air mata, acara yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan ternyata harus berlangsung dalam kondisi duka karena sakitnya Adi akibat leukimia.
Benar saja saat acara di mulai, sesuai runutan acara. Kedua mempelai menerima banyak tamu, Adi kelelahan dan harus segera menghubungi petugas medis untuk memberikan infus. Mereka berdua seolah tidak ingin menunjukkan bahwa mereka berdua sedang keadaan berduka. Saat tamu datang mereka berdua tersenyum. Berbeda dengan keluarga dekat yang mengetahui keadaan Adi. Semuanya menangis. Berdecak kagum kepada Neng yang bersedia memperjuangkan cinta mereka berdua.
Sehari selesai acara tidak acara bulan madu seperti kebanyakan pengantin baru. Adi harus segera menginap di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Neng siap sedia menemani dan tidak ingin terlihat sedih di depan suaminya. Mereka berdua bersepakat menjalani takdir Allah, menyerahkan akhir cerita cinta mereka kepada-Nya.
Pintu-pintu langit terus Neng ketuk untuk kesembuhan suaminya dari penyakit yang dideritanya. Mencoba mengubah takdir. Memperjuangkan cintanya. Memperjuangkan keluarga kecilnya mengobarkan harapan untuk kesembuhan. Pada akhirnya menyerahkan semua akhir cerita cintanya kepada Sang Pemilik Cinta. Semoga Allah SWT berikan jalan terbaik untuk cinta mereka.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
