Waspada Banjir Mengancam!
Indonesia sebagai negara tropis hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan hujan. Bulan ini Maret 2022 sejatinya berada pada rentangan musim hujan. Sehingga menjadi wajar curah hujan tinggi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal itu di perparah dengan efek La Nina yaitu fenomena perubahan iklim global yang memantik tingginya curah hujan di Indonesia.
Hujan sejatinya rezeki, anugerah dari Allah SWT. Air hujan sarat manfaat untuk semua makhluk bumi. Bahkan tumbuhan perintis di bumi muncul dari air. Air hujan bagian dari proses siklus air. Air yang ada dipermukaan bumi saat terkena sinar matahari mengalami penguapan, berubah wujud menjadi gas, menjadi awan, mengalami kondensasi/sublimasi, lalu terjadi hujan air/es/salju. Segala jenis hujan tersebut turun ke bumi ada yang tersimpan di danau dan rawa. Adapula masuk ke sungai kemudian bermuara ke laut. Segala air yang ada di bumi akan kembali mengalami penguapan. Makhluk hidup seperti tumbuhan mengalami transpirasi (pengeluaran uap air) dan hewan dan manusia mengalami eksresi (pembuangan zat sisa tubuh yang tidak lagi digunakan berupa cairan) semuanya akan mengalami perubahan wujud dari cair menjadi gas. Menyatu di lapisan udara terdekat dengan bumi yaitu troposfer kemudian menjadi awan dan turun sebagai hujan.
Hujan terjadi tentunya dengan intensitas yang berbeda, ada gerimis, sedang, dan lebat. Durasinya juga berbeda ada yang singkat, sedang maupun lama. Tidak ada yang salah dengan kondisi tersebut. Air sejatinya akan mengalir dipermukaan bumi dari tempat yang tinggi ke rendah, air juga dapat meresap kedalam tanah, air masuk kedalam cekungan alam (danau) yang ada di bumi, air juga akan tertahan dedaunan pohon. Semuanya sesuai dengan aturan langit.
Sampai pada akhirnya manusia yang merajai ekosistem di bumi berbuat sewenang-wenang dalam memanfaatkan sumber daya alam bumi tanpa berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Memanfaatkan SDA bumi tanpa mempertimbangkan risiko sebab akibat dari perbuatannya di bumi. Memantik permasalahan dimana air tidak lagi dapat menjalankan polanya saat turun sebagai air hujan sehingga terjadilah yang namanya banjir.
Apa itu banjir? Banjir adalah kondisi air berlebih yang merendam suatu wilayah. Mengapa kondisi itu terjadi? Bukan semata-mata karena hujan deras melainkan adanya perilaku manusia yang memicu terjadinya banjir. Jika mengacu kepada kajian hidrologi tentunya lokasi tempat mengalirnya air bisa dipetakan yaitu sepanjang kiri dan kanan aliran sungai, wilayah dataran rendah, cekungan, muara sungai, dan sepanjang pantai. Setelah mengetahui lokasi aliran air tempat terjadinya banjir, apa penyebabnya. Semisal air sungai meluap? Memicunya jelas adanya hambatan air mengalir secara normal.
Tidak terbantahkan penduduk bumi semakin tinggi jumlahnya dan membutuhkan tempat tinggal dan usaha sebagai mata pencarian hidup. Sehingga pembangunan dimana-mana dan menutup air untuk meresap ke dalam tanah. Bahkan karena alasan tidak ada lahan tanah sekitar kiri dan kanan sungai (daerah banjir/flood plain) juga di tempati. Kemudian perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan. Saat ini semua produk kebutuhan manusia meninggalkan limbah. Bisa dipastikan secara massif, saat hujan deras dengan intensitas yang lama, banjir dipastikan akan terjadi. Lalu apakah air salah tidak, justru kesalahan berada pada manusia yang tidak memperhatikan risiko dari setiap yang dilakukannya apakah memicu terjadinya banjir atau tidak saat musim hujan tiba. Terlebih adanya sikap kurang terpuji yaitu sikap masa bodoh tanpa mempertimbangkan munculnya bencana terhadap manusia yang lain.
Lalu bagaimana dengan banjir rob? Banjir ini jelas dipicu oleh gelombang laut pasang yang terjadi malam hari. Puncaknya saat bulan purnama. Jika saja di sekitar pantai ada penghijauan berupa tanaman mangrove dan pemecah gelombang maka gelombang laut akan terhadang. Pastinya pembangunan pemukiman pun harus memperhatikan lokasi daerah pantai dan pesisir yang aman. Jika pembangunan berada pada daerah pantai sejatinya banjir rob akan selalu terjadi.
Lalu bagaimana dengan banjir bandang. Banjir ini pemicunya rusaknya daerah hulu sungai akibat penebangan hutan secara liar dan alih fungsi lahan. Saat hujan turun air yang seharusnya tertahan daun pohon dan meresap kedalam tanah tidak terjadi. Air langsung ke permukaan bumi dan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah kemudian menyatu dalam jumlah besar dan membawa semua benda yang dilaluinya seperti tanah, lumpur, pasir, potongan kayu, dan sebagainya.
Jadi banjir sejatinya pemicu utamanya adalah manusia yang merusak sistem tata air alami. Menghilangkan daerah resapan air karena alih fungsi lahan, mendirikan bangunan di daerah banjir, dan menghambat aliran air dengan sampah. Saat musim hujan, air hujan turun dengan deras dengan intensitas yang lama maka terjadilah banjir.
Potensi banjir ini harus diwaspadai. Saat terjadi banjir bukan hanya pelaku pemicu terjadi banjir yang menjadi korban bahkan bisa juga orang yang tidak melakukan perusaka lingkungan menjadi korban. Saat bencana telah terjadi bencana tidak pernah memilih korban siapapun bisa menjadi korban. Waspadalah terhadap ancaman banjir karena musim hujan belum akan berakhir.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
