Mursalim Nawawi, S. Pd. M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
SEBUAH CERPEN RELIGI 'PAK TUA DAN JALAN MENUJU MASJID' T1483

SEBUAH CERPEN RELIGI 'PAK TUA DAN JALAN MENUJU MASJID' T1483

Di buat oleh MNGBC

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, ada seorang lelaki tua yang dikenal sebagai Pak Saleh. Setiap hari, tanpa mengenal lelah, Pak Saleh berjalan sejauh 3 kilometer untuk sampai ke masjid terdekat. Pemandangan ini sudah biasa bagi penduduk desa. Dengan tongkat di tangan dan tubuh renta, ia selalu datang lebih awal untuk shalat berjamaah.

Di sisi lain, Fadil, seorang pemuda yang tinggal hanya beberapa ratus meter dari masjid, jarang sekali terlihat di sana. Meski suara adzan terdengar jelas dari rumahnya, ia lebih sering sibuk dengan ponsel atau tiduran. "Nanti saja, masih ada waktu," pikirnya setiap kali adzan berkumandang.

Suatu sore, saat Fadil berjalan melewati sawah, ia bertemu Pak Saleh yang sedang dalam perjalanan pulang dari masjid. Dengan senyum hangat, Pak Saleh menyapa, "Assalamu'alaikum, Nak Fadil. Sedang apa sore-sore di sini?"

Fadil menjawab, "Hanya jalan-jalan, Pak. Tapi saya heran, kenapa Bapak repot-repot berjalan jauh setiap hari ke masjid? Bukankah Bapak bisa shalat di rumah saja?"

Pak Saleh tersenyum bijak. "Nak Fadil, setiap langkah yang kita ambil menuju masjid itu dihitung sebagai pahala. Selain itu, berjamaah di masjid membuat hati saya lebih tenang. Di usia saya yang sudah tua, saya hanya ingin mendekatkan diri pada Allah sebanyak mungkin. Siapa tahu, ini adalah hari terakhir saya bisa melangkah ke masjid."

Fadil terdiam mendengar jawaban itu. Kata-kata Pak Saleh menyentuh hatinya. Bagaimana mungkin seorang lelaki tua yang harus berjalan sejauh 3 kilometer begitu rajin ke masjid, sedangkan dirinya yang muda dan sehat justru malas?

Keesokan harinya, Fadil mencoba mengubah kebiasaannya. Ketika adzan berkumandang, ia melangkahkan kakinya ke masjid. Di sana, ia melihat Pak Saleh sudah duduk dengan tenang di saf pertama. Melihat senyum Pak Saleh, hati Fadil terasa hangat.

Dari hari ke hari, Fadil semakin rajin berjamaah. Ia sadar bahwa usia muda bukan alasan untuk bermalas-malasan. Semangat Pak Saleh menjadi inspirasi bagi dirinya dan pemuda lainnya di desa.

Pesan moral dari kisah ini sederhana: "Jika Pak Tua bisa, mengapa kita yang muda tidak?" Usia dan jarak bukanlah penghalang untuk beribadah. Yang dibutuhkan hanyalah niat tulus dan kesadaran bahwa setiap langkah menuju kebaikan akan membawa berkah.

Semoga cerita ini bermanfaat

Salam religi #MN_GBC

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post