SENTER TUA KAKEK (T.1505)
Karya MNGBC
Di sudut lemari kayu tua di rumah peninggalan keluarga, aku menemukan dua senter lusuh ini. Tubuhnya berlapis logam yang mulai pudar, namun tetap kokoh seperti kenangan yang tak pernah luntur. Seketika, aku kembali pada masa kecil, masa ketika senter ini menjadi saksi bisu petualangan sederhana yang penuh makna bersama kakek.
Kakek adalah seorang petani sederhana. Setiap malam, ia selalu membawa senter ini saat pergi memeriksa ladang atau sekadar mengecek kandang ayam. Aku, cucu kecilnya yang selalu penasaran, tak pernah absen ikut bersamanya.
Petualangan di Malam GelapMalam itu, seperti biasa, kakek mengajakku menyusuri jalan setapak menuju ladang. Di bawah langit penuh bintang, kegelapan malam hanya diterangi cahaya kecil dari senter di tangan kakek. Aku berjalan di belakangnya, mencoba menyesuaikan langkah kaki kecilku dengan langkah panjangnya.
“Kenapa harus bawa senter, Kek?” tanyaku polos waktu itu.
Kakek tersenyum sambil mengangkat senter itu ke udara. “Karena di dunia ini, Nak, kita butuh cahaya. Sama seperti hidup, kalau kita nggak punya pegangan, kita bisa tersesat.”
Aku tak sepenuhnya paham maksudnya, tapi kata-kata kakek selalu terasa menenangkan.
Sesampainya di ladang, kakek menyinari setiap sudut. Ia selalu bilang bahwa senter ini seperti mata keduanya, membantu melihat apa yang tak terlihat dalam gelap. Kadang, aku meminjam senter itu, pura-pura menjadi detektif yang menyelidiki jejak di tanah atau mencari binatang kecil di rerumputan.
Saat Senter Menjadi PenyelamatSuatu malam, petualangan kami berubah menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Hujan deras turun tiba-tiba saat kami berada di ladang. Tanah menjadi licin, dan aku terpeleset hingga kakiku terkilir. Aku menangis, merasa takut karena kami jauh dari rumah.
Kakek menenangkan aku dengan suara lembutnya. Ia menyalakan senter dan memanggulku di punggungnya. Cahaya dari senter itu memandu jalan kami yang licin dan gelap. Sepanjang perjalanan, kakek terus menghiburku dengan cerita-cerita jenaka, meskipun aku tahu ia lelah memapah tubuh kecilku.
“Aku bawa senter bukan cuma untuk melihat jalan, Nak,” kata kakek waktu itu. “Tapi untuk memastikan kamu selalu aman bersamaku.”
Kenangan yang AbadiTahun-tahun berlalu. Kakek telah tiada, dan aku tumbuh menjadi dewasa. Senter tua ini sekarang teronggok di lemari kayu, mungkin sudah tak berfungsi lagi. Tapi bagiku, senter ini adalah simbol kasih sayang dan kebijaksanaan kakek.
Ketika aku memandang senter ini, aku merasa seperti kakek masih bersamaku, menerangi jalan hidupku dengan nasihat dan teladannya. Aku sering teringat kata-katanya tentang cahaya dan pegangan hidup. Kini aku mengerti bahwa senter itu lebih dari sekadar alat, ia adalah pelajaran tentang bagaimana tetap tegar dan berjalan dalam kegelapan, baik itu dalam ladang maupun dalam hidup.
Senter kakek mungkin telah redup, tapi cahayanya tetap abadi di hatiku.
Demikian yang dapat di ceritakan, semoga menghibur dan mereview memori masa kecil kita.
Salam #MN_GBC
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
