Sebuah Cerita Pendek KISAH SI LIDAH EMAS (T. 1697)
Di tulis oleh MNGBC
Di sebuah kantor kecil di sudut kota, hiduplah seorang pegawai bernama Pardi. Bukan Pardi biasa, tapi Pardi yang dikenal punya “lidah emas.” Julukan ini bukan karena ia pandai berpidato atau menulis puisi, melainkan karena kemampuannya memuji atasan dengan cara yang membuat siapapun kalah telak. Tiap kata yang keluar dari mulutnya manis, bahkan lebih manis dari gula tebu segar.
Setiap pagi, sebelum sang bos datang, Pardi sudah menunggu di depan pintu dengan senyum selebar rel kereta api. “Wah, bos hari ini pasti makin tampan dan segar bugar. Baju bos sepertinya dibuat khusus oleh desainer Paris, ya?” Padahal semua orang tahu, kemeja itu beli di pasar minggu diskon besar-besaran. Tapi Pardi mengucapkannya dengan nada yang begitu tulus, seolah ia sedang memberi salam malaikat.
Kawan-kawan sekantor sering geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Ada yang menganggapnya lucu, ada juga yang jengkel setengah mati. Tapi yang jelas, Pardi selalu mendapat bagian lebih dulu setiap ada bonus, perjalanan dinas, atau sekadar jatah kue saat rapat. “Rezeki anak soleh,” katanya sambil terkekeh, tanpa sedikit pun merasa bersalah.
Suatu hari, bos mereka mendapat promosi besar dan harus pindah ke kantor pusat. Seluruh pegawai diminta memberikan pesan dan kesan. Saat gilirannya tiba, Pardi maju dengan langkah penuh percaya diri. “Bos adalah cahaya di kegelapan, oase di tengah gurun, dan matahari yang menghangatkan seluruh bumi,” ucapnya. Semua orang menahan tawa, sementara bos tersenyum kaku.
Namun, kehidupan memang pandai memberi pelajaran. Bos baru yang menggantikan ternyata tipe orang yang lebih menghargai kejujuran daripada sanjungan. Di minggu pertama, Pardi mencoba trik lamanya. “Wah, jas bapak seperti jas James Bond!” katanya. Sang bos hanya menatapnya sebentar dan menjawab, “Jas ini peninggalan ayah saya. Tidak perlu dilebih-lebihkan, cukup katakan rapi.”
Sejak itu, trik lidah emas Pardi tidak lagi mempan. Setiap kali mencoba memuji berlebihan, bos baru malah memintanya memberikan masukan yang nyata dan berguna. Awalnya Pardi kikuk, tapi lama-kelamaan ia sadar: memuji boleh, asal jujur. Sanjungan palsu mungkin membuat orang tersenyum sebentar, tapi tak akan membangun rasa hormat yang sesungguhnya.
Kini, Pardi mulai mengubah kebiasaannya. Ia belajar memberi kritik dengan sopan, menyampaikan ide tanpa takut, dan memuji secukupnya dengan tulus. Teman-temannya yang dulu sering kesal, mulai kembali akrab dengannya. Ternyata, menjadi jujur itu lebih ringan di hati daripada terus-menerus menjilat demi keuntungan sesaat.
Dan begitulah, si “Lidah Emas” akhirnya paham: harga diri jauh lebih mahal daripada sekadar sepotong kue rapat atau tiket perjalanan dinas. Sebab, integritas adalah satu-satunya bekal yang membuat kita bisa berjalan tegak tanpa harus membungkuk berlebihan di hadapan siapa pun.
demikian yang bisa diceritakan, semoga bermanfaat
Salam #mngbc
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
