Sebuah Puisi kerinduan 'Senandung Sunyi Sang Pungguk Rindu' T. 1736
Sebuah Puisi kerinduan sosok Ayah
Karya Mursalim Nawawi Chaling Gbc
"Senandung Sunyi Sang Pungguk Rindu"
Di batas senja, kalbuku merintih,
Ayah, bayangmu hadir, namun fana.
Dalam sunyi, air mata tak tertahan,
Rindu ini menggunung, tak terperi,
Di setiap sudut ruang, hadirmu terasa.
Kenangan manis terukir di jiwa,
Tawa renyahmu, kini hanya cerita.
Nasihat bijakmu, pedoman hidupku,
Namun, langkahku kini terasa hampa,
Tanpa hadirmu, Ayah, di sisiku.
Bintang malam menjadi saksi bisu,
Doa-doa kupanjatkan untukmu.
Semoga engkau tenang di surga-Nya,
Rindu ini akan abadi selamanya,
Ayah, engkau pahlawan dalam hidupku.
Di setiap langkah, ku merasakan hadirmu,
Semangatmu membara dalam jiwaku.
Kuwarisi ketegasan dan kebaikanmu,
Ayah, engkau inspirasi dalam hidupku,
Namamu abadi dalam setiap doaku.
Namun, air mata tetap menetes pilu,
Rindu ini takkan pernah berlalu.
Ayah, engkau selalu di hatiku,
Dalam setiap hembusan nafasku,
Kucoba tegar meski hati terluka.
Sang Pungguk merindukan rembulan,
Begitu pula aku merindukanmu, Ayah.
Namun, ku tahu, engkau telah bahagia,
Di sisi-Nya, tempat terindah dan abadi,
Rinduku ini kan kubawa hingga akhir hayatku.
Sidenreng Rappang,14 September 2025
#ayah #bapak #father #rindu #kangen
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
