Nanik Wijayanti

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Panen Rambutan

Panen Rambutan

Sebelum kembali ke Jakarta, aku memanen buah rambutan yang sudah matang di kebun samping dan belakang rumah Pakde. Pohon rambutan itu begitu lebat buahnya dan tampak berwarna merah, sungguh menggiurkan. 

Buah rambutan itu tak ada yang memanen karena tak ada yang sempat memetiknya juga harga jualnya sangat murah.  Buah  eksotis itu dibiarkan tua di pohon hingga akhirnya rontok sendiri.

Bude menyuruhku mengambil buahnya sebagai oleh-oleh. Dengan senang hati menerimanya. Paksu lalu mengambil.galah untuk memetik buah yang bergelantungan. Cukup banyak juga buah yang kami petik tapi tak semua pohon kami ambil buahnya karena letaknya yang terlalu tinggi. Rasanya senang bisa menikmati buah langsung dari kebunnya. 

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post